Oleh: Pdt. Em. Jahja Sunarja

“Allah mahabesar …. Allah mahabesar …. Allah mahabesar ….  ampuni kami ya Allah …. ampuni kamiii …. ya Allah …. ampuni kamiii …. ya Allaaahhhh …”

Doa itu terdengar bersamaan dengan terlihatnya tanah-tanah yang retak, dinding rumah-rumah yang runtuh, goncangan yang kuat; dalam rekaman video amatir salah seorang saksi mata peristiwa gempa di Palu.

Teriakan dan doa yang serupa juga melatarbelakangi rekaman video lain tentang tsunami, sebagai peristiwa ikutan akibat gempa itu, yang mulai menghantam pantai dan dengan cepat melanda daerah sekitar sampai jauh ke darat.

Dukacita dan penderitaan para korban sangat hebat. Upaya untuk menghibur dan menopang para korban yang selamat datang dari seluruh dunia. Empati dan simpati itu meringankan himpitan duka dan rasa takut yang sampai saat ini hadir dalam hati mereka.

Sebagai orang beriman yang baik, kita memang menghubungkan semua peristiwa yang kita alami dengan iman kita. Kita memberi sikap iman terhadap segala peristiwa; sehingga kita mampu memahami makna dari setiap pengalaman hidup. Pergumulan itu menghasilkan pertumbuhan rohani, yang membuat kita makin mengenal TUHAN, makin mengenal diri sendiri, makin mengenal dunia dan kehidupan ini, makin percaya bahwa TUHAN baik dan punya tujuan menghadirkan kita dalam kehidupan ini pada saat ini.

Dalam upaya untuk memahami itulah, pertanyaan imani yang menjadi tema tulisan ini muncul. Apakah malapetaka yang terjadi di Palu, Donggala dan sekitarnya merupakan hukuman TUHAN bagi saudara-saudara kita di sana? Jika ya, hukuman atas dosa apa? Apa yang mereka lakukan yang menyebabkan mereka harus mengalami penderitaan demikian hebat? Jika ternyata hanya sekelompok orang yang berdosa, apakah semua orang di sana harus menerima hukuman? Bukankah TUHAN maha pengasih dan penyayang serta maha adil?

Satu Sudut Pandang Saja Tidak Cukup

Ketika pemerintah Indonesia harus membuat peraturan tentang boleh tidaknya operasi “perubahan kelamin” (gender reassign-ment), mereka mengundang para ahli dari beberapa disiplin ilmu. Para ahli memberikan pendapat mereka sesuai ilmu pengetahuan masing-masing. Mereka memberikan pendapat dari sudut pandang ilmiah. Para pakar itu adalah orang-orang yang beragama, tetapi pendapat mereka tidak merujuk pada iman mereka. Pendapat imani, diberikan oleh para tokoh agama-agama yang juga diikutsertakan dalam diskusi itu. Pemerintah menyusun aturan perihal itu berdasarkan pertimbangan atas pelbagai pendapat dari pelbagai sudut pandang.

Hal ini dimungkinkan oleh perkembangan pengetahuan manusia, yang kita percaya sebagai anugerah TUHAN. Sejarah perkembangan ilmu pengetahuan merekam “jejak” campur-tangan TUHAN. Kita percaya dan bersyukur kita menjadi seperti kita saat ini karena kasih dan kemurahan TUHAN.

Natural Disaster

Para ahli geologi dan seismologi memberikan penjelasan ilmiah tentang penyebab terjadinya gempa dan tsunami di Palu, Donggala dan sekitarnya. Dikatakan bahwa Palu, Donggala dan sekitarnya memang berada pada garis patahan aktif Matano dan Palu Koro. Sejak tahun 2017 telah terjadi paling tidak tiga kali gempa. Jadi, peristiwa gempa itu memang merupakan peristiwa alam. Secara akumulatif ilmu Bumi memberi kita pengenalan yang makin utuh tentang planet tempat kita bermukim ini.

Saya percaya TUHAN memberikan kita pengetahuan ini agar kita dengan bijak dapat menata hidup kita dan Bumi demikian rupa sehingga kita serta generasi berikut dapat hidup dalam damai dan sejahtera.

Gambaran Allah yang menyejukkan

Daud menggambarkan TUHAN sebagai berikut:

TUHAN adalah penyayang dan pengasih,

panjang sabar dan berlimpah kasih setia.

Tidak selalu Ia menuntut,

dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam.

Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita,

dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi,

demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia,

sejauh timur dari barat,

demikian dijauhkan-Nya daripada kita pelanggaran kita.

Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya,

Demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.

(Mazmur 103:8-13)

Seperti halnya Daud, Tuhan Yesus juga menggambarkan TUHAN seperti seorang Bapa. Ia sendiri menyapa TUHAN sebagai Bapa. Ia juga mengajar agar kita menyapa TUHAN sebagai Bapa kita (Matius 6:9). Suasana hati yang muncul ketika kita melihat dan menyapa TUHAN sebagai Bapa sangat khas. Kita melihat figur penuh kasih dan belaskasihan. Figur pembimbing dan pendamping yang ingin anak-anak-Nya hidup dalam damai dan sejahtera.

Pengenalan yang makin mendalam ini berasal dari pengalaman rohani yang panjang bapa-bapa leluhur iman kita, yang dengan susah payah merekamnya dalam Alkitab dan mewariskannya kepada kita.

Mereka tidak lagi bertanya-tanya tentang kebaikan TUHAN. Mereka percaya penuh bahwa TUHAN itu baik. Ia tidak akan menimpakan malapetaka dan penderitaan kepada anak-anak-Nya. Ia sangat mengasihi kita.

Jadi, kita juga harus berhenti mempertanyakan kebaikan TUHAN. Malapetaka bukan dari TUHAN. Gunakan iman dan ilmu pengetahuan yang TUHAN berikan kepada kita untuk menjawab persoalan yang kita hadapi dalam hidup kita. Berhentilah mencari jawaban mudah. Sudah saatnya kita mengenal Dia dengan baik dan membagikan pengenal kita itu kepada dunia.

Benedictus Deus Quia Ille Bonus Est

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here