Oleh: Pdt. Jahja Sunarja

Saudara-saudara tidak terkejut mendapati kenyataan bahwa pada era digitalisasi, ketika perkembangan ilmu pengetahuan sudah demikian hebat, pertanyaan klasik ini masih muncul? Pada era ketika hampir semua perkara telah ditemukan jawabnya, bukankah perkara ini pasti sudah berulang-kali dibicarakan dan dijawab?

Mungkin kita lupa bahkan dalam Alkitab perkara ini juga sudah digumuli dan dijawab. Contohnya dalam kitab Ayub. Dengan tegas dikatakan bahwa hal-hal yang buruk terjadi kepada Ayub karena Iblis. Tuhan memang memberi izin kepada Iblis untuk menimpakan kemalangan dan penderitaan kepada Ayub, hamba yang dikasihi-Nya. Tetapi karena peristiwa itu Ayub makin mengenal dan mengasihi Allah. Cobaan Iblis telah dijadikan ujian/sarana pertumbuhan iman Ayub.

Apakah Ayub lulus dalam ujian itu? Sama sekali tidak! Ayub gagal. Tetapi dari kegagalannya ia belajar mengenal kebenaran tentang Allah. Pada pasal 42 ayat 5-6 Ayub berkata: “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.”

Apa yang dikatakan Ayub tentang Allah, yang kemudian dicabut dan disesalinya? Pasal 10 mengisahkan bagaimana Ayub, dalam kemarahan dan keputusasaannya menuduh bahwa Allah adalah Allah yang jahat dan sewenang-wenang. Allah melakukan apa saja yang diinginkan hati-Nya. Allah tidak pernah mau menghargai upaya manusia untuk hidup berkenan kepada-Nya. Allah adalah Hakim yang tidak adil. Semua itu dikatakannya ketika ia sedang dalam penderitaan yang amat berat, dalam kebingungan, kemarahan dan keputusasaan.

Jadi, ketika peristiwa serupa terjadi pada kita pada saat ini, apakah jawab yang sama yang akan kita berikan kepada pertanyaan itu? Sebagai orang percaya, kita percaya bahwa Allah, yang kita sapa Bapa, adalah Allah yang baik. Semua yang buruk terjadi dalam kehidupan pasti bukan berasal dari Dia. Seiring berkembangnya kemampuan berpikir kita; kita mengenal manusia dengan lebih utuh. Kita mengenal alam dengan lebih baik. Kita menemukan banyak jawaban atas banyak pertanyaan yang sejak semula menyulitkan kita. Dengan pertolongan Tuhan, kita berhasil menemukan cara ilmiah menyembuhkan banyak penyakit, yang pada era Alkitab selalu dikaitkan dengan dosa atau roh jahat. Kita terus percaya dan berharap akan menemukan semua jawab untuk pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan yang masih belum terjawab.

Tuhan memberikan kepada manusia kebebasan untuk bersikap benar dalam segala perkara. Jika itu kita lakukan maka kita akan menikmati kehidupan yang baik (Kejadian 2:16-17). Tuhan juga memercayakan pengelolaan kehidupan di Bumi ini, kepada kita (Kejadian 1:28; 2:15). Kemampuan untuk mengambil keputusan yang benar menyebabkan manusia dapat bertahan hidup sampai saat ini, bukan? Jadi, kita pasti akan terus menemukan jawab dan solusi untuk perkara-perkara kehidupan di masa mendatang.

Apakah kebijakan untuk melatih guru-guru atau setiap orang memiliki keterampilan menembak, untuk melumpuhkan orang-orang sakit jiwa atau teroris menembaki anak-anak/orang-orang di sekolah/di pasar, adalah kebijakan yang benar? Kita percaya Tuhan akan menolong kita menemukan solusi yang tepat untuk itu. Setiap orang dipanggil untuk memberikan sumbang pemikiran mencari solusi. Allah tidak membiarkan hal-hal buruk terjadi dalam hidup kita, apalagi merancangkannya. Ia adalah Allah yang baik yang akan menolong kita menemukan solusi untuk mencegah hal-hal buruk terjadi pada kita. Ia sudah melakukannya sampai sekarang, dan akan terus melakukannya.

Amsal 3 : 5-6 mengatakan :”Percayalah pada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar pada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.

Artikel ini ditulis dalam keprihatinan dan rasa simpati yang dalam bagi setiap orang yang mengalami hal-hal buruk yang terjadi bukan sebagai akibat kesalahan/kekerasan hatinya; serta pengharapan terus ditemukannya solusi yang tepat bagi setiap perkara kehidupan yang akan dihadapi manusia di masa mendatang. Soli Deo Gloria!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here