Oleh: Pdt. Johnvin Anugraha 

PENDAHULUAN

1. Apakah anda menyembah berhala? Tentu banyak dari kita mengatakan tidak. Orang modern mengasosiasikan orang-orang dulu kala sebagai penyembah berhala. Mereka menyembah batu, menyembah pohon, menyembah sungai, menyembah gunung, dllnya.

2.Apakah manusia modern masih menyembah berhala? Berhala dalam arti kuno seperti menyembah pohon, sungai, batu, dllnya, sudah tidak dilakukan lagi. Tetapi bukan berarti manusia modern tidak menyembah berhala? Salah satu berhala modern bagi kaum muda adalah tokoh pujaan dalam diri manusia. Penyanyi jadi tokoh pujaan sehingga melahirkan program American Idol, Australian idol.  Idol atau idola sebenarnya adalah satu istilah dari agama-agama kuno yang pada masa lalu diterjemahkan dengan kata berhala.
Seperti tadi dikatakan di atas masyarakan zaman dulu menyembah berhala
tetapi sekarang ini, berhalanya bukan dari batu, kayu atau pohon tetapi berhalanya manusia yang dikagumi, menjadi tokoh pujaan yang dipuji-puji, dan diagung-agungkan!

AYUB 2:1-10- HARI BURUK AYUB

1.Bacaan kita dari  Perjanjian Lama berbicara mengenai seorang tokoh yang menonjol karena prestasinya di bidang iman kepercayaan. Tentunya tokoh ini kita bahas bukan untuk kita puja, tetapi untuk mengerti bagaimana iman orang ini. Siapakah nama tokoh itu? Dia tidak lain adalah Ayub. Tokoh ini tidak dengan terperinci dijelaskan oleh alkitab. Ia hanya disebutkan berasal dari daerah Us (1:1) dan merupakan orang terkaya di daerahnya.

Yang membuat kisahnya menjadi menarik adalah karena tiba tiba saja dari seorang kaya dan bahagia tiba-tiba saja ia menjadi miskin.

Bagaimanakah persisnya kisah kemalangan Ayub, seorang yang takut akan Tuhan ini? Singkatnya, Iblis datang menghancurkan harta benda dan anak-anak Ayub, atas seizin Tuhan (1:13-19) sehingga Ayub hidup miskin berdua dengan Istrinya.

Apa reaksi Ayub? Pada pasal 1:21-22 Ayub tidak mengutuk dan menggerutu; Ayub tidak sekali-pun mempertanyakan Tuhan, namun sebaliknya justru memahami bahwa apa yang ia miliki semuanya BUKAN MILIKNYA, melainkan adalah milik Tuhan. Maka, menurut Ayub, adalah wajar jika Tuhan mengambilnya. Peristiwa ini adalah PENCOBAAN PERTAMA dan Iblis GAGAL TOTAL menjatuhkan Ayub dalam dosa. Sebab dalam ayat 22 pasal 1 ditekankan, bahwa dalam kondisi itu Ayub TIDAK berbuat dosa.

2.Setelah gagal pada cobaan pertama mengenai HARTA BENDA dan kepemilikan, maka saatnya Iblis melanjutkan cobaan kedua tentang tubuh jasmani dengan Istilah yang dipakai “kulit ganti kulit” (2:4). Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan pada bacaan kita, yakni:

Kita menemukan suatu kebenaran penting pada kisah ini. Pencobaan dan derita Ayub tidaklah datang dari tangan TUHAN yang penuh kasih itu. Derita Ayub ditimpakan oleh tangan Iblis yang penuh dengan kebencian dan kepicikan.

Ayub sangat menderita dengan penyakit yang ditimpahkan Iblis. Garukan karena gatal lewat tangannya sudah tidak berguna lagi. Itulah sebabnya dalam ayat 8 disebutkan Ayub menggunakan beling untuk menggaruk-garuk badannya. Silakan bayangkan betapa ngeri penderitaan Ayub! Itu belum cukup. Penderitaan ditambah dengan ucapan-ucapan istrinya. Bukan menghibur, malah mau menjauhkan dia dari Tuhan.

3.Perhatikan jawaban Ayub kepada Istrinya yang sekaligus menjadi jawaban Imani Ayub terhadap semua cobaan dan derita hidup yang ia alami! Dalam ayat 10 bacaan kita, Ayub dengan tegas menolak menghujat dan meragukan Allah. Ayub menyadari bahwa ia hanya mungkin hidup karena anugerah dan karunia TUHAN. Karena itu apapun yang Tuhan lakukan, entah yang baik atau buruk harusnya tetap diterima dan disyukuri. Bagi Ayub, adalah suatu KEGILAAN jika manusia hanya mau menerima yang baik dari TUHAN dan menolak yang buruk.

Pernyataan iman ini sangat dahsyat dan luar biasa untuk dimaknai. Ayub menerima apapun dari TUHAN. Ayub belajar untuk menerima keburukan hidup oleh karena ia sudah menerima kebaikan terlebih dahulu. Ayub tidak berpikir bahwa kesalehan dan kesetiaannya harus dibalas TUHAN dengan KEBAIKAN sebagai hadiah dan haknya. Namun keunggulan Ayub adalah ketika ia menyadari bahwa di tangan TUHAN-nya ia bukan siapa-siapa sehingga tidak layak menggerutu, sebaliknya Ayub belajar menerima apapun dari TUHAN. Sebab, bagi AYUB, Tuhan berhak melakukan apapun baginya baik atau buruk karena itu adalah HAK Tuhan termasuk terhadap dirinya sekalipun.

4. Apa yang harus kita lakukan saat mengalami pencobaan oleh Iblis. Belajarlah seperti Ayub! Ia tidak menjadikan TUHAN sebagai MUSUH-nya, melainkan terus bergantung pada TUHAN. Hal ini terlihat jelas dari tiap jawaban imannya ketika menghadapi 2 jenis pencobaan itu.

Mengapa bergantung pada TUHAN begitu penting? Bukankah banyak orang cenderung meninggalkan TUHAN ketika merasakan bahwa seakan TUHAN tidak adil dalam hidupnya? Perhatikan bunyi Mzm.37:5 yang menjadi alasan penting kita harus tetap bergantung pada TUHAN! Ayat ini berbunyi: “Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak”. Artinya, hanya dengan bergantung pada TUHAN, saat alami pencobaan, maka IA akan bertindak.

5. Dalam pencobaan ingat pula I Kor.10:13 yang mengatakan : “… Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu… Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.“ TUHAN tidak akan berdiam diri di saat kita mengalami pencobaan dari Iblis. Ia akan memberikan kepada kita jalan keluar dan kekuatan untuk dapat menanggungnya hingga pencobaan itu selesai. Karena itu jangan tinggalkan TUHAN ketika menghadapi pencobaan, sebaliknya teruslah berada di pihak TUHAN yang penuh kasih dan kuasa itu.

PENUTUP
1.Di tengah dunia dengan begitu banyak idola-idola. Siapakah idola tokoh pujaan anda? Mendengar uraian hidup Ayub barangkali kita akan mengidoakan Ayub. Tunggu dulu ada yang lebih menderita dari Ayub. Dialah Yesus. Biarlah Yesus kita jadikan idola. Dia tidak ada  bandingannya, dan tidak ada tandingannya. Dia lah Yesus yang telah melewati segala penderitaan dan maut. Dia telah mengalahkan maut dengan kebangkitanNya.

2. Ayub boleh kita jadikan teladan iman, tetapi idola kita adalah Yesus. Dia bukan saja idola tetapi Dia menjadi teman dan memberi kekuatan pada waktu kita menderita. Dialah pujaan kita. Dialah sembahan kita. Mari kita memuja Dia senantiasa. Mari kita memuliakan Dia. Mari kita mengabdikan waktu dan tenaga kita  tanpa kenal lelah. Mari kita perhatikan dan laksanakan segala perintah dan firmanNya. Biarlah di dalam Dia kita senantiasa bersukacita. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here