Oleh: Pdt. Em. Jahja Sunarja

Jadilah kehendak-Mu

Permohonan dalam doa Bapa Kami ini menekankan pentingnya membiarkan kehendak dan rencana Tuhan terjadi dalam kehidupan ini. Bayangkan apa yang akan terjadi jika kehendak dan rencana tiap orang yang terjadi dalam kehidupan ini! Sebelum kita mampu memberi tempat pada kepentingan sesama dalam hidup kita, kehendak kita akan menjadi sumber konflik dan kekacauan, bukan? Sebagai contoh: seorang pengusaha ikan asin ingin agar sepanjang hari dan setiap hari cuaca cerah dan matahari bersinar kuat, sehingga ikan asinnya cepat kering. Sementara itu, pada hari yang sama seorang petani ingin agar hujan turun dengan lebat sehingga ada cukup air untuk mengairi sawahnya.

Tuhan Yesus mengajar kita untuk percaya bahwa Allah Bapa pasti tau akan kebutuhan kita. Bapa kita akan mencukupkan semua kebutuhan hidup kita. Ia akan menolong kita memperoleh pekerjaan, sandang, pangan dan papan, pasangan hidup, karir, dan lainnya. Dalam khotbah di bukit, Tuhan Yesus menegaskan perihal pemeliharaan Allah Bapa atas semua ciptaan-Nya, sehingga kita tidak perlu khawatir. Jika kita percaya, ada damai dan syukur senantiasa dalam hati kita.

Ooo yaa? Bagaimana dengan para penginjil yang dianiaya bahkan dibunuh saat mengabarkan kabar sukacita? Bagaimana dengan sakit penyakit yang terus membuat manusia menderita? Bagaimana dengan teroris yang menebar ketakutan dan merusak ketentraman? Bagaimana dengan bencana alam yang menelan banyak korban? Bagaimana dengan anak-anak yang cacat sejak lahir dan tumbuh dengan banyak kesusahan? Bagaimana dengan doa permohonan yang tidak kunjung dipenuhi?

Marilah dengan sabar kita memperhatikan perkembangan kehidupan manusia, khususnya dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, sejak “era hunting and gathering” sampai “era informasi” saat ini. Apakah makin banyak kesusahan dan penderitaan manusia, atau makin berkurang? Apakah makin banyak pengabar injil yang dianiaya dan dibunuh? Apakah makin banyak jenis penyakit yang belum bisa disembuhkan? Apakah makin banyak konflik antarbangsa? Apakah makin banyak orang yang mati kelaparan? Apakah makin banyak orang dilahirkan cacat dan hidup dalam kesulitan? (Bukankah makin banyak orang cacat yang hidup lebih nyaman dan berprestasi?) Jika jawabannya adalah makin berkurang, maka sebagai orang percaya sepatutnya kita mengakui kehadiran dan rancangan Tuhan dalam kehidupan manusia. Rancangan itu adalah rancangan damai sejahtera bukan celaka, untuk memberikan kepada manusia hari depan yang penuh harapan (Yeremia 29:11).

Penderitaan yang perlu

Dalam pergumulan menghadapi salib, di taman Getsemani, Tuhan Yesus berdoa. Dalam doanya yang pertama, Ia minta agar penderitaan itu berlalu daripada-Nya, Ia tidak perlu menanggungnya. Tetapi dalam doanya yang kedua, Ia berkata: “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!” (Matius 26:42) Tuhan Yesus sadar bahwa cawan itu tidak akan berlalu jika Ia tidak meminumnya. Ia harus/perlu menanggung penderitaan dan kematian agar manusia diselamatkan.

Tuhan tidak mau kita menderita, tetapi dalam kehidupan ini ada penderitaan dan kesusahan yang harus kita tanggung demi kebaikan. Demi keselamatan umat manusia Tuhan Yesus rela menanggung penderitaan bahkan kematian. Kita bersusah payah belajar agar kita memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup, bukan? Agar kita kebal terhadap penyakit tertentu, kita menanggung rasa sakit dan demam dampak dari vaksinasi. Para atlet bersusah payah menanggung rasa nyeri dan lelah berlatih agar mereka dapat memenangkan pertandingan. Penderitaan dan kesusahan seperti ini memang perlu. Baiklah kita menanggung penderitaan yang perlu dengan rela.

Por Amor

Tuhan Yesus berkata: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yohanes 13:13) Ia telah membuktikan kebenaran pernyataan ini. Ia sendiri telah memberikan nyawaNya untuk keselamatan umat manusia dan dunia. Ia melawan ketika ditangkap, dianiaya dan dibunuh untuk karena kasih-Nya bagi kita; bahkan bagi orang-orang yang membenci Dia. Doanya sebelum Ia meninggal berbunyi: “Ya Bapa ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34) Kasih-Nya kepada manusia tidak bersyarat dan tidak terbatas. Ia sungguh mengasihi semua orang.

Sungguh alangkah kuatnya pesan yang disampaikan melalui perkataan dan perbuatan yang dilandaskan atas kasih. Pusat kepentingan bukan lagi diri sendiri tetapi sesama manusia dan dunia. Sebab kerikil yang dilemparkan ke air akan menciptakan riak makin lama makin luas, bukan? Cepat atau lambat setiap orang akan terpapar daya hidup, yaitu kasih Kristus. Kasih tanpa perhitungan untung rugi. Kasih yang selalu memberi. Kasih dengan kerelaan untuk berkorban.

Rasul Paulus menasihati jemaat di Filipi katanya: “Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. (Filipi 2:4-7)

Seorang yang merancang hidupnya dengan cermat dan tertib adalah se-orang yang bertanggungjawab. Mencanangkan tujuan hidup dengan baik merupakan wujud iman. Sebab Tuhan Yesus juga merencanakan hidup-Nya dengan baik. Ia setia pada agenda hidup yang disusun-Nya. Di atas kayu salib Ia berseru: “Sudah selesai” (Yohanes 19:30). Ia telah melaksanakan agenda hidup-Nya sampai selesai. Tetapi ada kalanya rancangan itu tidak terwujud. Ada interupsi-interupsi yang sepertinya “merusak” rancangan itu. Apakah yang harus kita lakukan? Marilah kita menyimak bagaimana Tuhan Yesus bersikap ketika hal itu terjadi.

Pada suatu pesta kawin di Kana. Ia dan ibu-Nya hadir. Di tengah pesta mereka kehabisan air anggur. Ibu Yesus minta agar Yesus menolong mereka, sebab ia tahu Yesus mampu. Pada awalnya, Tuhan menolak katanya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku ibu? Saat-Ku belum tiba.” Tetapi kemudian Ia mengabulkan permintaan ibu-Nya. (Yohanes 2:1-11) Kasih-Nya kepada ibu-Nya dan kepada keluarga yang empunya pesta menyebabkan Ia mengubah rancangan-Nya. Dan ternyata perubahan itu mendatangkan kebaikan. Dikatakan dalam ayat 11: itulah tanda yang pertama dari rangkaian mukjizat Yesus yang melaluinya kemuliaan-Nya dinyatakan. Sampai saat ini gereja melihat peristiwa itu sebagai dukungan Tuhan kepada kehidupan pernikahan dan keluarga.

Jika hidup kita tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan dan rancangkan, ingatlah bagaimana Tuhan Yesus menyikapinya, dan apa yang mendasari sikap-Nya ….. bukankan por amor …

Marilah kita berdoa bagi Indonesia agar karena kasih kita dapat dengan rela menanggung penderitaan saat ini, jika memang penderitaan ini perlu ditanggung. Biarlah kehendak Tuhan yang terjadi. Imanuel!!!

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here