Oleh: Pdt.Em.Johnvin K Anugraha

  1. Yusuf pernah bermimpi. Dia menceritakan mimpi tadi kepada kakak-kakaknya demikian: Tampak kita sedang di ladang mengikat berkas-berkaso  gandum, lalu bangkitlah berkasku dan tegak berdiri; kemudian datanglah berkas-berkas kamu sekalian mengelilingi dan sujud menyembah kepada berkasku 1  p “Lalu saudara-saudaranya berkata kepadanya: “Apakah engkau ingin menjadi raja atas kami? q Apakah engkau ingin berkuasa atas kami?” Jadi makin bencilah r  mereka kepadanya karena mimpinya dan karena perkataannya itu. (Kej.37:7,8).
  2. Apakah mimpi Yusuf menjadi kenyataan dan dia menjadi “raja”?.Coba kita baca ini: Ketika ada saudagar-saudagar Midian lewat, Yusuf diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Ismael itu dengan harga dua puluh syikal perak. Lalu Yusuf dibawa ke Mesir. (Kejadian 37:28). Mimpi indah Yusuf mengantar dia kepada hidup yang pahit. Dia dijual oleh kakak-kakaknya sebagai budak. Bermimpi pun tidak bahwa ia akan dijual sebagai budak. Apa artinya? Hidup yang nyaman seperti yang dialaminya di rumah ayahnya tidak akan dirasakan lagi.
  3. Apakah reaksi kejiwaan seseorang yang mengalami pengalaman pahit seperti itu? Dapat dipastikan orang itu akan menjadi marah, sakit hati, dan benci terhadap orang atau kelompok orang yang mendatangkan bencana terhadap dirinya tersebut. Orang tersebut akan menyimpan amarah dalam hidupnya, dan dalam hatinya bertekad kalau ada kesempatan akan membalas jahat dengan jahat. Kebencian semacam itu dapat ditelusuri alasannya dan orang dapat membenarkan diri terhadap kebenciannya itu.
  4. Benci bukan saja merupakan gejala individual, tetapi juga kebencian bisa menjadi milik golongan. Segolongan orang benci terhadap TOKOH Pimpinan Daerah atau di lingkungan gereja bisa saja kebencian golongan ditujukan terhadap pendeta. Mula-mula ada alasan yang masuk akal untuk kebencian tersebut. Dalam perjalanan waktu kebencian tadi menjadi tidak masuk akal. Apa saja yang diperbuat tokoh pimpinan daerah atau pendeta tadi selalu dicela, dikritik dan mereka mencari jalan untuk menjatuhkan tokoh pimpinan daerah atau pendeta tadi. Di sini kebencian berkembang dari masuk akal sampai kepada tidak masuk akal lagi. Emosi bekerja,kebencian menguasai, akal sehat ditinggalkan. Golongan tersebut disebut sebagai golongan pembenci atau the haters.
  5. Apakah Yusuf yang mengalami kejahatan kakak-kakaknya bereaksi dengan kebencian dan keingingan balas dendam? Kalau ya, maka Tuhan tidak akan memberkati Yusuf sehingga akhirnya menjadi penguasa kedua di Mesir. Kalau Yusuf masih mendendam dan ingin membalas, pasti akan membahayakan orang lain kalau Yusuf diberi kekuasaan, karena dengan kekuasaaan dia akan mencelakakan orang lain yang dibencinya. Yusuf tidak benci dan tidak membalas kejahatan kakak-kakaknya. Kita membaca ucapan Yusuf di Kejadian 50:20 yang berbunyi demikian: “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka rekakannya untuk kebaikan. Sebelumnya kakak-kakaknya setelah kematian ayah mereka Yakub datang kepada Yusuf untuk minta ampun. Mereka takut kalau Yusuf akan membalas kejahatan mereka. Yusuf tidak membenci, tidak mendendam, tetapi malahan membalas kejahatan saudara-saudaranya dengan kebaikan.
  6. Dari Yusuf kita belajar ketika mimpi belum menjadi kenyataan, dia bersabar dalam penderitaannya, dia menghubungkan situasinya dengan Tuhan Allah penguasa kehidupan dan pengatur jalannya kehidupan manusia. Dia tidak marah atau kecewa kepada Tuhan. Dia juga tidak menaruh dendam terhadap kakak-kakaknya yang telah mencelakakan dia. Hatinya bebas dari beban benci dan dendam. Juga dia tidak mendendam terhadap istri tuannya yang telah memfitnah sehingga ia dijebloskan ke penjaran. Ia bebas dari benci dan dendam sehingga dia dapat melakukan tugas-tugas kesehariannya dengan baik, Tuhan beserta dan memberkati apa yang dikerjakannya. Itu terjadi di rumah tuannya orang Mesir yang bernama Potifar maupun ketika ia dipenjara setelah difitnah oleh istri tuannya.
  7. Beberapa dari kita barangkali mengalami dimana keinginan dan cita-cita hidupnya belum terkabul atau mungkin juga tidak terkabul. Selama hidup sehat masih diberikan Tuhan, janganlah cepat-cepat putus asa, jangan cepat-cepat putus usaha dan janganlah juga cepat cepat “marah” kepada Tuhan, jangan juga cari kambing hitam menyalahkan pihak lain. Buang segala perasaan negatif terhadap Tuhan dan sesama. Pelihara suka cita Tuhan dalam hidup karena masih disertai Tuhan. Disertai dan didampingi Tuhan berarti masih ada harapan yang baik untuk hari esok. Meyakini bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik, dalam segala cuaca kehidupan biarlah kita senantiasa belajar berkata: “KehendakMu jadilah di bumi seperti di surga”

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here