“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Yoh. 15:13

Ada bentuk dan tingkat persahabatan yang berbeda. Seperti yang dikatakan dalam Amsal 18:24, “Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.”

Teman yang baik itu indah dan menyenangkan, namun teman yang palsu itu mendatangkan berbagai kesengsaraan dan kepahitan. Kesetiaan adalah kunci membangun persahabatan yang sejati, kita akan merasa bahagia jika kita berteman dengan orang yang setia. Tetapi pengkhianatan seorang teman akan membuat kita kehilangan makna eksistensi kita.

“Ada sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.” Salomo memandang persahabatan lebih dari segala-galanya, dia telah menikmati keindahan dan kemewahan dunia, namun bagi dia, semua adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin. Dia telah menemukan makna hidup di dalam persahabatannya.

Selanjutnya Tuhan Yesus berkata: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”

Dalam sejarah kita juga sering menemukan pengorbanan seorang sahabat. Suatu persahabatan yang dibangun di atas kasih yang sejati. Pdt. Charles Spurgeon dalam khotbahnya pernah menyampaikan sebuah cerita yang menceritakan dua saudara yang bernama Forsythe di resimen Highland, yang tersesat waktu berbaris melintasi Dataran Tinggi. Mereka disusul oleh salah satu badai mengerikan yang kadang kala terjadi terhadap para wisatawan yang tidak menyadarinya. Mereka tersesat di atas pegunungan, salju tebal menutupi pandangan mereka. Begitu dekat dengan kematian, dan dengan susah payah mereka berhasil melanjutkan perjalanan mereka. Waktu itu satu persatu dari orang-orang yang ada di situ jatuh ke salju dan menghilang. Dan salah satu dari kedua saudara itu terjatuh dan terbaring di salju dalam keadaan pingsan. Tetapi saudaranya, yang meski hampir tidak kuat untuk menyeret tubuhnya sendiri telah menaruh saudaranya ke atas ke punggungnya dan membawanya melintasi padang pasir putih. Adik pemberani yang setia ini akhirnya tidak kuat lagi, lalu terjatuh dan meninggal dunia. Namun saudaranya telah menerima kehangatan dari tubuhnya sehingga dia bisa mencapai akhir perjalanannya dengan selamat dan tetap hidup. Di sini kita memiliki sebuah contoh dari satu saudara yang mengorbankan hidupnya untuk orang lain.

Dalam buku To End All Wars, Ernest Gordon menceritakan kisah nyata sekelompok tahanan perang yang bekerja di Jawatan Kereta Api Birma selama Perang Dunia II. Ketika suatu hari tugas mereka telah selesai, seorang prajurit berseru bahwa ada sebuah sekop hilang, dan dia menuduh salah seorang tahanan mencurinya. Dia meminta orang tersebut maju untuk menerima hukumannya. Karena tidak ada yang maju, maka tentara itu sangat marah dan mengancam untuk membunuh semua tahanan. Untuk menyatakan kesungguhannya, dia bersiap untuk menembak orang yang ada di depannya, kemudian sang Argyll (julukan untuk tentara Skotlandia) maju ke depan dan dengan tegap dan penuh hormat dia berkata dengan tenang: “akulah pelakunya.” Akhirnya sang Argyll dihukum mati. Setelah para pekerja mengangkat mayatnya, mereka berbaris untuk kembali ke kamp. Ketika peralatan itu dihitung sekali lagi di rumah jaga, ternyata tidak ada sekop yang hilang. Tentara itu telah salah menghitung. Sang prajurit muda yang maju ke depan tidak mencuri sebuah sekop. Ia memberikan nyawanya untuk teman-temannya.

Bila di dunia kita menemukan persahabatan yang demikian, kita akan merasa bahagia, dan akan lebih bahagia lagi bila kita menemukan sahabat jiwa yang akan bersama kita di dalam kekekalan. Kita menemukan sahabat yang demikian di dalam diri Tuhan Yesus, Anak Allah – sahabat orang berdosa, yang rela mati bagi sahabat-sahabat-Nya.

Fondasi persahabatan ini adalah kasih-Nya yang tanpa pamrih, kasih yang sejati dalam persahabatan telah menghasilkan tindakan yang gagah berani. Dengan gagah berani Tuhan Yesus memikul dosa seluruh umat manusia, Dia berjalan menuju ke Bukit Golgota, dan dipaku di atas salib yang kasar, bahkan pada akhirnya Dia berteriak, “”Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Mat 27:45-46).  Saat itu dia merasa ditinggal oleh Bapa-Nya. Dia melakukan semuanya itu untuk menyatakan kasih-Nya kepada kita yang dianggap sebagai sahabat-Nya, dan ini adalah kasih yang terbesar yang pernah dinyatakannya dalam Injil Yohanes tadi: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”

Mengapa Yesus melakukan semuanya? Mengapa Dia menyerahkan nyawa-Nya untuk kita orang-orang berdosa? Karena Dia menganggap kita sahabat-Nya. Allah telah mengutus Dia sebagai Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. (Yoh. 1:29). Melalui kematian-Nya kita yang percaya mendapat pengampunan, Dia telah mewakili kita menanggung akibat dosa yaitu kematian, supaya kita mendapat hidup yang kekal. Kita diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah (Yoh 1:12). Kita diubah menjadi bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri. Allah yang telah mengubah kita menginginkan agar kita memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kita keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib. Ini adalah tugas dan panggilan kita bersama. Suatu misi yang kudus dan mulia, yang telah Allah percayakan kepada kita.

Dalam masa-masa memasuki Paskah, marilah kita merenungkan pengorbanan Tuhan Yesus, dan pertama-tama pastikan bahwa Anda telah menjadi sahabat Tuhan Yesus, dan menerima pengorbanan-Nya sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, menerima Dia sebagai Juru Selamat pribadimu.

Selanjutnya, marilah dengan hati yang bersandar kepada Tuhan kita mengikuti jejak dan teladan Tuhan Yesus yang rela berkorban demi keselamatan orang lain. Serta berdoa, agar Tuhan memakai hidup kita bagaikan lilin yang mendatangkan berkat bagi orang yang berada di sekitar kita. HAPPY EASTER, Tuhan memberkati!

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here