Oleh: Mariska Lauterboom

Lalu Yesus berkata kepada murid-muridNya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya¬†dan mengikut Aku¬† (Matius 16:24)

Salib adalah salah satu simbol utama dalam Kekristenan. Simbol ini melambangkan penderitaan atau kesengsaraan tapi sekaligus melambangkan kemenangan Kristus atas dosa dan maut. Mengingat pentingnya simbol Salib ini, maka hampir di semua rumah orang Kristen pasti ada setidaknya satu Salib. Ada juga orang Kristen yang memakai Salib sebagai aksesori entah itu di kalung, anting, dan sebagainya. Lalu apakah Salib itu benar-benar telah dimaknai dalam kehidupan Kekristenan? Ataukah Salib hanya menjadi sekedar simbol tanpa makna atau pajangan belaka?

Memaknai Salib dalam masa pra-Paskah adalah hal yang penting. Salib dan pelayanan Yesus di dunia adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Tuhan Yesus sungguh menekankan pentingnya memikul Salib, seperti yang disaksikan dalam Injil Matius 16:24, bahwa setiap orang yang mau mengikut Yesus harus menyangkal diri dan memikul Salib. Ayat ini didahului dengan kisah tentang Yesus yang bertanya tentang siapakah dirinya dan Petrus yang menjawab bahwa Yesus adalah Mesias, anak Allah yang hidup. Yesus kemudian mengatakan bahwa Ia akan mengalami begitu banyak penderitaan dan bahkan dibunuh. Namun, Petrus jugalah yang meragukan/menyangsikan tentang hal ini, seakan-akan dia tidak beriman bahwa Yesus harus dan sanggup menghadapi semua penderitaan tersebut. Dalam konteks teks seperti inilah, maka Matius 16:24 menjadi sangat bermakna, bahwa penderitaan justru menjadi bagian penting dari kehidupan beriman orang Kristen yang mengikut Yesus, karena Yesus telah mendahuluinya dan Ia menang.

Menyangkal diri sebagai bagian dari mengikut Yesus adalah sebuah bentuk komitmen hidup yang berfokus pada Kristus dan bukan lagi pada kesenangan dan kepentingan daging diri sendiri. Menyangkal diri adalah bentuk pengosongan diri atau kenosis yang juga telah dialami Yesus ketika Ia datang ke dunia sebagai manusia biasa. Keberadaan dirinya sebagai Tuhan ditinggalkan ketika Ia menjelma menjadi manusia dan menderita, bahkan sampai mati di Kayu Salib. Itu sebabnya, menyangkal diri atau mengosongkan diri harus diikuti dengan memikul Salib. Artinya, hidup manusia di dunia ini tidak terlepas dari penderitaan dan kesengsaraan. Semua orang memiliki Salibnya masing-masing. Yang berbeda adalah bagaimana kita memikul Salib itu; apakah kita menyerah, apakah kita lari, ataukah kita terus memikulnya dengan setia sama seperti Yesus. Jadi maukah kau memikul Salib dengan setia?

Hidup di dunia ini penuh dengan berbagai bentuk penderitaan yang datang dari luar maupun dari dalam diri sendiri. Mungkin kita tidak bisa mengontrol apa yang datang dari luar diri kita, tapi setidaknya kita bisa menguasai apa yang ada di pikiran kita. Artinya ketika kita sudah menyangkal diri, maka cara kita menyikapi penderitaan yang ditimbulkan oleh pikiran kita sendiri juga tentunya akan berbeda. Kita akan berpikir positif dan fokus pada Kristus. Kita akan melihat bahwa apapun yang sedang kita alami, Salib yang sedang kita pikul, adalah cara Tuhan membentuk kita menjadi pribadi yang tangguh dan yang menang bersama Dia. Kita tidak dikuasai oleh pikiran negatif, tapi kita menguasai pikiran kita dengan iman kepada Kristus. Dengan menguasai pikiran kita, maka penderitaan apapun yang datang menimpa (entah sakit penyakit, masalah keluarga, hubungan suami istri yang sudah mulai retak, beban ekonomi, kesepian, ketakutan akan dideportasi, kekhawatiran akan masa depan, dan sebagainya), maka niscaya kita akan sanggup melewatinya bersama Yesus.

Selamat menghayati sengsara Kristus. Ia mati bagi kita, tapi Ia juga bangkit bagi kita.

Yakinlah, selalu ada harapan di dalam DIA.

Tuhan Yesus memberkati kita. Amin!

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here