Oleh: Pdt. Em. Jahja Sunarja

Tidak ada kasih yang lebih besar

dari pada kasih seorang yang

memberi nyawanya

untuk sahabat-sahabatnya.

(Yesus Kristus, Yohanes 15:13)

Tuhan Yesus mengatakan: “Iman itu seperti biji sesawi, jika ditaburkan di ladang akan bertumbuh menjadi pohon yang besar, tempat burung-burung bersarang.” (Matius 13:32).

Jika demikian dapatkah kita mengetahui tahapan pertumbuhan iman? Apakah indikator tentang iman yang sempurna/penuh?

Belajar dari kesaksian Alkitab tentang iman murid-murid Tuhan Yesus, kita dapat melihat tahapan itu sebagai berikut:

  1. Percaya: ketika mereka menerima panggilan menjadi murid, mereka percaya bahwa Yesus dari Nazaret anak Yusuf tukang kayu itu memang Guru yang mumpuni, yang dapat menolong mereka bertumbuh secara rohani (akal-budi, roh).
  2. Mengenal: ketika mereka mengikut Yesus, bergaul akrab, belajar, mengalami banyak peristiwa penuh makna, merasa suka dan duka bersama, mengamati bagaimana Tuhan menghadapi serta menyelesaikan masalah-masalah kehidupan, mengamati hubungan antara Tuhan Yesus dengan Allah yang dihayati-Nya sebagai Bapa yang mengutus Dia untuk mengabarkan injil Kerajaan Allah dan keselamatan, mengalami kuasa ilahi-Nya; mereka makin mengenal Dia, bahkan Petrus dengan berani menyimpulkan bahwa Yesus dari Nazaret ini adalah Mesias Anak Allah yang hidup (Mt. 16:16; Mrk. 8:29; Lk. 9:20).
  3. Mengasihi: dalam pengenalan yang makin utuh, tumbuhlah kasih yang demikian kuat dalam hati mereka terhadap Guru dan Tuhan mereka, bahkan Petrus rela menyerahkan nyawanya untuk Yesus Sang Mesias anak Allah yang hidup itu (Mrk.14:31; Mt. 26:35; Lk. 22:33).

Jadi, tahap terpenuh dalam pertumbuhan iman adalah kasih dengan kerelaan untuk berkorban. Sebelum Tuhan Yesus naik ke sorga, Ia menegaskan kembali perihal dasar yang benar untuk mengabarkan injil Kerajaan Allah, yaitu kasih dengan kerelaan untuk berkorban, kepada Allah dan kepada sesama (Yoh. 14:23; 21:17-18). Sebab berdasarkan kasih Allah mengutus putra-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan umat manusia dan kehidupan, bukan? (Yoh. 3:16)

Kita masih ada dalam rangkaian minggu-minggu Pra-Paskah, ketika kita mendapat kesempatan untuk menghayati penderitaan Yesus Kristus, Mesias yang ditolak oleh umat-Nya sendiri, dengan pembunuhan berkedok penyesatan ajaran agama dan penghujatan terhadap Allah. Karena kasih-Nya yang besar, Ia rela memberi nyawa-Nya untuk membangkitkan kesadaran umat tentang kebenaran injil yang diberitakan dan dinyatakan-Nya, yaitu kasih Allah Bapa yang terus menanti anak-Nya yang hilang kembali pulang (Lk. 15:11-32).

Inilah juga momen yang tepat untuk memeriksa diri. Apakah iman kita bertumbuh? Jika ya, sudahkah iman itu mencapai tahapan yang penuh yang menghadirkan kasih dengan kerelaan untuk berkorban bagi Allah dan bagi sesama? Jika belum, apa yang menghambat pertumbuhan itu? Mungkinkah pengenalan kita tentang Tuhan Yesus belum cukup mendalam? Maukah kita mendalami Alkitab dengan lebih tekun, agar makin mengenal Tuhan Yesus, seperti rasul Petrus mengenal Dia?

Selamat menghayati penderitaan Tuhan Yesus, selamat bertumbuh !!!

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here