Oleh: Marisaka Lauterboom

“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih” (1 Korintus 13:13)

Apakah alasannya kita mengasihi seseorang? Apakah karena ia cantik atau ganteng? Apakah karena dia kaya dan punya jabatan? Ataukah karena dia setia dan baik hati? Mungkin jawaban kita berbeda-beda, tapi sebagai orang Kristen kita mengasihi karena Tuhan telah lebih dulu mengasihi kita. Kita mengasihi sebagai respons atau ungkapan syukur kita atas kasih Allah yang tidak pernah berkesudahan dalam kehidupan kita.

Ada beberapa jenis kasih yang dialami manusia, yaitu eros, storge, philia dan agape. Kasih eros adalah kasih antara dua orang manusia; kasih antara sepasang kekasih. Kasih storge adalah kasih dalam keluarga atau kasih persaudaraan; kasih orang tua kepada anak atau kasih antara kakak dan adik. Kasih philia adalah kasih persahabatan; kasih di antara teman. Kasih yang terakhir adalah agape. Kasih agape adalah kasih yang sejati, yang tulus, dan yang ilahi. Kasih agape inilah yang dinilai sebagai kasih yang terbesar, yaitu kasih Allah kepada dunia.

Rasul Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Korintus yaitu 1 Korintus 13:13, mengatakan bahwa kasih yang paling besar di antara iman dan pengharapan. 1 Korintus ini adalah salah satu dari tujuh Paul’s undisputed letters, yang ditujukan kepada jemaat di Korintus yang sedang mengalami ancaman perpecahan. Kasih ditekankan oleh Paulus sebagai hal utama yang bisa mengatasi perpecahan tersebut. Perpecahan yang dialami jemaat Korintus dikarenakan beberapa hal, yaitu injil yang berbeda-beda yang diberitakan oleh para Rasul, kesenjangan sosial dan kesembongan rohani. Di tengah suasana ini, kasih menjadi sangat penting. Kasih jugalah yang menjadi alasan kedatangan Tuhan Yesus ke dalam dunia. Kasih adalah inti ajaran Kristus. Itu sebabnya, kasih harus menjadi dasar relasi yang dibangun di dalam Kristus.

Lalu bagaimana dengan kasih dalam rumah tangga? Apakah kasih yang dimiliki hanya sebatas kasih storge atau eros saja dan bukan kasih agape? Kasih yang karena ukuran fisik atau material saja? Hubungan antara suami dan istri atau orang tua anak, haruslah hubungan yang didasari kasih agape, yaitu kasih ilahi yang tulus dan tanpa pamrih. Suami dan istri harus saling melengkapi satu dengan yang lain, saling memahami, dan saling memaafkan terus menerus, sama seperti bagaimana Tuhan terus menerus mengasihi manusia. Inilah wujud nyata dari kasih ilahi dalam hubungan suami istri. Ketika saat ini ada suami atau istri yang merasakan adanya kerenggangan atau keretakan dalam rumah tangga, mungkin saja karena eros tidak didasari kasih agape. Ketika orang tua merasakan benci karena anak dianggap terus membangkang, mungkin karena tidak ada syukur atas kasih agape.

Kasih eros antara suami dan istri atau kasih philia antara orang tua dan anak harus selalu didasari oleh kasih agape. Inilah bentuk relasi di dalam Tuhan yaitu relasi yang harus didasarkan kasih dan dibangun dalam kasih. Biarlah suami atau istri atau anak akan selalu berucap: “Aku mengasihimu dengan tulus karena aku tahu dan aku sungguh telah merasakan kasih Tuhan Yesus dalam hidupku.” Selamat menghayati kasih Tuhan di bulan perayaan kasih, bulan Februari, tapi juga di bulan Januari sampai Desember.  Tuhan sungguh mengasihi kita. Amin!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here