Oleh: Pdt. Em. Johnvin K Anugraha

Manusia ketika diciptakan Tuhan Allah sebagai Adam dan Hawa, dengan perintah untuk beranak cucu. Manusia diciptakan dalam relasi dengan teman hidup, dengan anggota keluarga dan sesamanya manusia. Dalam berelasi dengan sesama manusia maka melakukannya dengan berkomunikasi.

Puji Tuhan bagi mereka yang mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi karena tuhan mengaruniakan kita alat tubuh untuk berbicara dan alat tubuh untuk mendengar. Dengan alat-alat ini kita berkomunikasi di tengah keluarga, dalam pergaulan, di tempat kerja dan di gereja. Kita mendengar apa yang dikatakan orang dan kita juga menyampaikan isi pikiran kita. Terjadi pertukaran pikiran, perasaan dan informasi satu terhadap yang lain.

Hal berkomunikasi adalah perkara sehari-hari yang kita semua terlibat. Nah dalam keterlibatan komunikasi di sana sini kadang-kadang terjadi salah paham, salah pengertian dan tidak sedikit pertengkaran. Ini dapat terjadi di antara suami–istri di tengah keluarga dan juga di tempat kerja bahkan juga di gereja. Rahasia untuk mencegah atau mengatasi pertengkaran di berikan dalam Pengkotbah fasal 3. Rahasianya sederhana saja, ada waktunya untuk berdiam diri dan ada waktunya untuk berbicara (ay.7)

Istri  yang suka bicara, bicara dan bicara kadang-kadang tidak memberikan kesempatan suami untuk berbicara, akibat terjadi kejengkelan dari pihak suami dan istri kurang mengerti isi hati dan pikiran suami. Kepada istri-istri yang suka bicara, berilah kesempatan kepada suami untuk berbicara dan belajarlah juga untuk bediam diri dan belajar untuk mendengar. Pada sisi lain ada suami-suami yang senangnya berdiam diri saja, kalau tidak diajak bicara mereka diam saja. Kalau istrinya berbicara maka baru mereka menjawab itu juga sepatah dua kata. Situasi demikian juga kadang-kadang menjengkelkan istri. Bagi suami-suami ini, mereka perlu belajar berbicara, berbicara mengeluarkan isi hati dan isi pikiran kepada istrinya, bukankah memang istri sebagai teman hidup adalah antara lain menjadi teman bicara yang paling intim. Untuk komunikasi yang baik dan sehat serta membangun maka semua perlu belajar ada waktunya berbicara dan ada waktunya berdiam diri.

Dalam konteks hubungan pribadi ada waktunya untuk mengasihi dan ada waktunya untuk membenci (ay.8).Mungkin mengenai kasih kita tidak terkejut karena memang adalah perintah Tuhan untuk mengasihi sekalipun itu musuh. Bagaimana dengan membenci? Membenci di sini tentunya harus diartikan membenci yang jahat, membenci yang apa yang tidak berkenan kepada Tuhan. Dengan membenci berarti kita tidak menyetujui perbuatan tersebut dan kalau perlu membicarakan itu dengan teman hidup kita kalau itu dalam konteks keluarga. Sebagai anak-anak Tuhan kita harus belajar membenci apa yang Tuhan benci.

Masih dalam konteks hubungan antar pribadi ada waktunya  untuk damai dan ada waktunya untuk perang. Ini adalah suatu realita dalam dunia yang sudah jatuh dalam dosa. Bukan itu kadang-kadang terjadi dalam rumah tangga? Ada perang kata-kata, ini sudah hebat dan menyakitkan. Coba kendalikan lidah sehingga perang kata-kata tidak terlalu hebat dan menimbulkan kerusakan yang luar biasa. Mengapa? Sebab kerusakan nantinya harus diperbaiki dan dibangun lagi. Jadi lebih baik jangan merusak sebelumnya. Selain perang kata-kata , kadang-kadang terjadi juga perang piring terbang artinya benda-benda melayang diarahkan kepada teman hidup. Ini bahaya dan seharusnya tidak terjadi dalam rumah tangga Kristen.  Kalau sampai terjadi cepat-cepat minta ampun kepada Tuhan, minta perdamaian dengan istri atau suami, berjanji di depan Tuhan untuk tidak mengulanginya. Mengapa? Tidak lain perang semacam itu kalau sering terjadi dapat membuat rumah tangga bubar. Bagi anak-anak Tuhan seharusnya lebih banyak waktu damai. Dalam situasi damai jaga segala tindakan dan perkataan agar situasi damai lebih awet. Situasi damai harus diusahakan mengingat situasi damai memberi kesejukan kepada anak-anak dan kepada semua anggota keluarga. Undanglah Tuhan Yesus sang raja damai untuk menguasai hidup rumah tangga kita. Sekaligus dengan kuasa Tuhan, usir si setan pengacau yang menimbulkan hura-hara dan peperangan dalam rumah tangga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here