Oleh: Pdt. Saumiman Saud *)

“Aku hendak bersyukur kepadaMu, ya Tuhan, Allahku, dengan segenap hatiku, dan memuliakan namaMu untuk selama-lamanya.” Mazmur 86:12

Pepatah mengatakan bahwa hidup manusia itu ibarat sebuah roda yang senantiasa berputar, kadang kita berada pada posisi atas, dan kadang kita berada pada posisi yang bawah. Dengan demikian maka, hidup itu penuh dengan berbagai perubahan, ada kala kita mengalami kesuksesan besar, namun ada kalanya kita mengalami kegagalan besar. Ada saatnya hidup kita begitu mantap, namun tiba-tiba kita bisa saja menjadi goyah. Pada saat sukses, rasanya gampang untuk bersyukur kepada Tuhan, namun pada saat gagal, kita akan merasa sulit mengucap syukur pada Tuhan. Rasul Paulus di dalam 1 Tesalonika 5:18 mengatakan “Dalam segala keadaan hendaklah kalian bersyukur, sebab itulah yang Allah inginkan dari kalian sebagai orang yang hidup bersatu dengan Kristus Yesus.

Kembali kepada pertanyaan kita, mengapa kita mesti mengucap syukur? Kita akan coba lihat tiga alasannya hari ini:

  1. Karena syukur membawa kehidupan lebih dinamis

Keluhan, omelan, protes dan sebagainya merupakan suatu kemacetan atau kemandekan dalam hidup kita, sebab tatkala kita mengeluh; kita berada pada posisi stagnasi. Sedangkan ucapan syukur merupakan suatu posisi yang dinamis, semakin kita bersyukur maka semakin kita beriman, dan dekat serta takut akan Tuhan, semakin menuju sempurna.

Para ahli bisnis mengajarkan tiga kata ajaib mewujudkan kehidupan kerja yang lebih dinamis, misalnya kata “I respect you” “I appreciate you” dan “I agree with you.” Ketiga kata ini diyakini akan mengubah kehidupan kerja seseorang menjadi lebih dinamis, ketimbang kata-kata yang mencemooh, menghina dan menghakimi. Sedangkan para ahli komunikasi mengatakan bahwa ada tiga kata ajaib yang mampu membangun hubungan baik antar manusia (the three magic words), yaitu terima kasih (thank you), maaf (sorry), dan tolong (please). Dari ketiga kata tersebut, yang memiliki kekuatan terbesar ternyata kata “terima kasih”.

Ungkapan terima kasih sesungguhnya didasari pada rasa syukur kepada Tuhan Yang Kuasa atas rahmat-Nya kepada seseorang. Dia telah menggunakan orang lain untuk menolong seseorang melakukan sesuatu atau memberi sesuatu. Tatapan mata yang lembut yang disertai senyum dan jabat tangan erat sambil menyampaikan terima kasih, memiliki kekuatan yang luar biasa bagi orang yang menerimanya untuk berbuat lebih baik lagi. Ungkapan terima kasih yang tulus dan antusias akan mendorong orang untuk semakin banyak memberi dan melayani orang lain.

  1. Karena berkat itu adalah Anugerah

Coba kita perhatikan pertanyaan Tuhan Yesus pada ayat berikut ini? Luk 17:18  ”Mengapa hanya orang asing ini yang kembali mengucap terima kasih kepada Allah?”  Penulis Lukas ingin mengatakan kepada kita seakan-akan Yesus komplain? Yang sembilan orang itu ke mana? Mengapa orang-orang Yahudi tidak kembali? Apakah mereka tidak merasa ditolong oleh Yesus? Apakah mereka yang tidak kembali ibarat orang yang tidak punya hati untuk berterima kasih?

Ceritanya begini, ada sepuluh orang yang sakit kusta, mereka bertemu Tuhan Yesus dan minta disembuhkan. Lalu Tuhan Yesus meminta mereka pergi menghadap imam-imam, namun di tengah perjalanan penyakit kusta mereka menjadi tahir. Dari sepuluh orang kusta yang telah tahir itu, yang kembali datang kepada Tuhan Yesus dan mengucapkan terima kasih hanya satu orang, itupun dia bukan orang Yahudi, melainkan orang Samaria. Sewaktu saya kuliah di Seminari, tatkala membahas ayat ini, ada satu teman memprotes; mengapa Tuhan Yesus mempertanyakan sembilan orang yang lain? Bukankah Yesus sendiri yang menyuruh mereka bertemu imam-imam?

Kadang di gereja kita mendegar keluhan-keluhan dari orang-orang percaya yang lagi mengalami kesusahan dan kita senantiasa diminta mendukungnya dalam doa dan bahkan juga dana. Kita seakan-akan diajak harus dan wajib turut merasakan begitu dalamnya penderitaannya. Namun setelah ombak kehidupannya lewat, berita dari orang tersebut tidak ada lagi, lenyap begitu saja. Bahkan mendadak ada berita bahwa orang tersebut sudah berbahagia, bahkan sudah menikah dan sukses. Sebagai umat Tuhan kita bukannya komplain dan merasa iri akan hal ini, namun bagi orang tersebut, ia seakan-akan berpikir bahwa gereja, hamba Tuhan dan anggota lainya berkewajiban mengurusnya kalau ia lagi susah. Lalu setelah kesusahannya lenyap, sayonara gereja. Anda tidak boleh demikian, itu yang namanya kacang lupa pada kulitnya.

  1. Karena rancangan Tuhan selalu baik

Kita keliru bila mengukur kasih Allah dengan ritual yang kita lakukan. Jangan kita mengira karena kita sudah rajin ke gereja, rajin baca Alkitab, setia memberi persembahan perpuluhan, dan taat firman Tuhan, maka secara otomatis hidup kita sudah lancar dan sukses. Itu teologi kemakmuran. Taat pada firman Tuhan bukan ucapan syukur, sebab ucapan syukur merupakan buah-buah ketaatan yang kelihatan.

Coba lihat Ayub, adakah di antara kita yang dapat mengalahkan kerohanian Ayub? Alkitab mencatat bahwa ia orang yang saleh, jujur, orang yang taat pada Tuhan. Setiap pagi dia senantiasa datang pada Tuhan. Namun kenyataannya yang kita lihat adalah, orang semacam ini pun tidak luput dari penderitaan. Harta kekayaannya lenyap, bahkan ia harus menderita sakit. Yang menarik dari Ayub adalah tatkala ia berada dalam kondisi demikian pun, ia tidak pernah mempersalahkan Allah, artinya ia tidak pernah komplain. Baca Ayub 1:21, Ayub berkata, “Aku dilahirkan tanpa apa-apa, dan aku akan mati tanpa apa-apa juga. TUHAN telah memberikan dan TUHAN pula telah mengambil. Terpujilah nama-Nya!”

Bukankah kita dilahirkan di dunia ini tidak membawa apa-apa? Kalau dibandingkan dengan saat ini, pakaian, pengetahuan, pekerjaan, keluarga dan bahkan harta kekayaan yang kita miliki, bukankah seharusnya kita mengucap syukur? Apakah kita menganggap ini sebagai hal yang wajar, sebab kita yang berjuang kerja sendiri, belajar mati-matian, dan usaha sekeras-kerasnya; jadi wajar kalau kita memiliki segala-galanya? Jika ini merupakan pikiran kita, maka ini sekaligus kekeliruan kita.

Tuhan tidak sedang berbasa-basi supaya kita mengucap syukur dalam segala keadaan. Tetapi Tuhan itu serius terhadap kita, sebab rancangannya selalu yang terbaik. Kadang kita berpikir mengapa Tuhan itu menempatkan orang-orang yang sulit dalam tim kerja kita? Gara-gara mereka pekerjaan kita menjadi tidak lancar? Mengapa ada atasan yang berlaku tidak adil? Mengapa ada pimpinan yang suka menekan bawahan? Mengapa dan banyak mengapa? Namun kita harus bijak, sesungguhnya Tuhan menempatkan kita di tengah-tengah serigala ini justru melatih kita.

Jika kita ingin belajar sabar, maka kita perlu bergabung dengan orang-orang yang sukar. Justru kalau kita berhadapan dengan orang-orang yang suci, suka memaafkan, suka mengampuni dan baik hati, maka sulit bagi kita melatih kesabaran; justru kebalikannya, orang-orang lain yang barangkali harus bersabar terhadap kita.

*) Penulis lahir di Medan, alumni Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, sejak 2012  beliau melayani di Cornerstone Evangelical Baptist Church San Francisco, (Dept Bh. Indonesia). Kontak beliau via email saumiman.saud@cornerstone-academy.net

Rev. Saumiman Saud 萧安德 牧师
Gereja Cornerstone Indonesia
Cornerstone Evangelical Baptist Church
501 Cambridge St, San Francisco, CA 94134
Cell (415) 813 9772
www.cebcindonesia.wordpress.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here