Oleh: Pdt. Linna Gunawan
Pendeta Gereja Kristen Indonesia Kayu Putih, Jakarta, Indonesia.
Saat ini beliau sedang menempuh studi doktoral di Graduate Theological Union, Berkeley.

Tanggal 14 Februari baru saja kita lalui. Di tanggal tersebut, kita memeringati dua hari penting: Valentine Day dan Ash Wednesday. Kedua peristiwa ini menyatu kembali pada hari yang sama setelah tahun 1945. Menariknya dalam dua perayaan ini, terlihat sangat bertentangan. Satu, Ash Wednesday alias Rabu Abu, bukan perayaan alias pesta, malah cenderung kita diajak untuk menarik diri, merenungkan dosa-dosa kita. Sedangkan, Valentine Day atau Hari Kasih Sayang identik dengan pesta dengan orang-orang tersayang. Dekorasi pun sangat berbeda. Rabu Abu, dekornya begitu muram dan hitam. Valentine Day, pink dengan berbagai macam bentuk hati.

Apakah memang keduanya menjadi begitu amat berbeda dan bersebrangan? Bagi saya, keduanya memiliki simbol dan makna yang sama.

Pertama, simbol hati. Simbol ini bukan hanya milik Hari Kasih Sayang, tetapi juga Rabu Abu. Yoel 2: 13 berbunyi: “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya.”

Yoel memakai kata hati untuk menyandingkan tanda pertobatan yang biasanya orang Yahudi lakukan, yaitu mengoyakkan pakaian. Saat itu, saya membayangkan, Yoel sedang mengatakan kejengkelannya kepada bangsa yang terkenal bebal. Mereka sering melakukan ‘ritual’ pertobatan dengan mengoyakkan pakaian atau puasa dan bentuk lainnya, tapi tetap saja, ritual tidak diikuti dengan tindakan nyata.

Karena itu, kali ini Yoel meminta yang dikoyakkan adalah hati. Dalam bahasa aslinya, Ibrani, kata ‘hati’ ini adalah lev (לֵב) secara harfiah, yang ada di dalam diri manusia; bisa hati, pikiran, kehendak. Namun yang paling menarik dari kata ini, apabila kita lihat pictograf (simbol untuk kata atau frasa) Ibrani untuk kata ini:

(lamed) dan

(beit)

Untuk lamed, pasti Anda sudah menebak gambar tersebut, yaitu tongkat. Itu adalah tongkat gembala yang menggambarkan otoritas si gembala. Dia punya power yang mengendalikan domba-dombanya. Sedangkan, untuk beit, gambar itu menyimbolkan tenda sebagai representasi dari apa yang ada di dalam.

Dari pictograf ini, kita bisa melihat betapa dalamnya makna hati. Apa yang ada di dalam diri manusia punya kekuatan yang besar mengendalikan keseluruhan hidupnya. Dengan kata lain, hati mampu mengubah hidup manusia. Pantas saja, penulis Amsal mengatakan, “Jagalah dengan segala kewaspadaan, sebab dari situlah terpancar kehidupan” (Ams. 4: 23). Hidup manusia dikendalikan oleh hatinya.

Kembali pada Yoel, sungguh-sungguh dia meminta bangsa Israel bertobat dengan hatinya. Bukan hanya ritual, tetapi kalau pertobatan dimulai dari hati, dia akan mengubah hidup bangsa Israel.

Dalam tradisi peringatan Rabu Abu, kita diingatkan bahwa kita berasal dari debu, dan akan kembali dari debu. Biasanya dalam bahasa Latin digunakan kalimat ‘Memento Mori’ (Ing: remember that you have die). Kalimat itu mau mengingatkan kita betapa terbatasnya kita, betapa rapuhnya seperti debu (abu) yang tak ada artinya. Hilang lenyap tertiup angin. Ini mau mengingatkan kita yang rapuh hendaknya sungguh-sungguh bertobat, menyesali kesalahan dan dosa-dosa kita. Gunakan hati untuk bertobat, bukan hanya ritual tanpa makna. Peringatan ini kemudian menjadi pembuka masa Praspakah yang mengajak kita terus hidup dalam pertobatan hati.

Sedangkan, simbol hati, dalam peringatan Hari Kasih Sayang dengan mudah kita sebutkan, hati adalah lambang cinta. Sudah sangat umum, orang yang jatuh cinta pasti memberi tanda hati kepada kekasihnya. Terkait dengan hari itu, ada banyak kisah terkait dengan kisah Santo Valentinus, yang dikenal sebagai martir pada tahun 269. Peringatannya dilakukan setiap tanggal 14 Februari.

Namun, yang menarik, legenda seputar santo Valentinus. Ada banyak versi. Tapi yang paling sering diceritakan adalah saat santo di dalam penjara, dia sering mengirimkan surat-surat tanda cintanya kepada umat Tuhan. Setiap kali dia mengirimkan surat itu, dia tandai dengan gambar hati. Setelah kematiannya, tradisi mengirimkan surat atau kartu makin tersebar. Akhirnya, tradisi berlanjut di masa modern, dan dikenal sebagai Hari Kasih Sayang. Sifatnya universal, bukan lagi peringatan hari raya Gereja.

Dari dua kisah tentang Rabu Abu dan Hari Kasih Sayang ternyata simbol hati menyatukan keduanya.

Kedua, satu makna: Cinta.

Mari kita lanjutkan ayat dari Yoel tadi: “…berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya.” Lihatlah betapa kuatnya kata-kata yang menunjukkan cinta Tuhan kepada bangsa Israel yang bertobat. Tuhan mengampuni mereka, bahkan digunakan kata “menyesal.” Tuhan menyesal memberi hukuman bagi mereka yang bertobat. Dengan kata lain, Dia tidak pernah bosan memberikan pengampunan-Nya kepada mereka yang menyesal.

Karena itu, Rabu Abu, selain ajakan untuk menyesal dan bertobat menjadi pengingat bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Pengampun. Ini sangat penting bagi setiap kita yang melakukan kesalahan. Jangan lari dan takut apalagi menyembunyikan dosa yang akhirnya menghasilkan dosa lainnya. Sebab Allah bersedia mengampuni kita, tak pernah bosan Dia mengasihi kita.

Hari Kasih Sayang juga bermakna Cinta. Sekali lagi, Santo Valentinus adalah martir bagi Gereja Katolik. Dia disebut martir karena dia rela mati karena kecintaannya kepada Tuhan dan gereja.

Kalau kita mau memakai legenda dari kisah santo Valentinus dalam kaitannya dengan Hari Kasih Sayang, kita bisa mengatakan Cinta jugalah yang muncul amat kuat dalam kisah ini: kecintaan santo pada sesama umut manusia.

Hari ini, dalam peringatan Rabu Abu dan Hari Kasih Sayang, kita diingatkan kembali betapa pentingnya hati yang bertobat dan hati yang mengasihi Allah dan sesama. Betapa dalamnya Cinta Tuhan yang mengasihi saya, orang yang berdosa yang rapuh, sekaligus Cinta Tuhan mewujud dalam panggilan untuk mencintai sesama.

Selamat Hari Kasih Sayang, Selamat Hari Rabu Abu. Selamat menikmati misteri kasih Allah dalam kerapuhan dan panggilan untuk mengasihi sesama.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here