Hukum atau kasih? Kadang kedua pertanyaan ini muncul dalam diri banyak orang yang mengaku percaya kepada Tuhan.

Bagi sebagian penganut, hukum perlu ditegakkan sebagai lambang supermasi Tuhan yang penuh kuasa dan wibawa. Sedang manusia memang patut menerima hukuman saat hukum Tuhan dilanggar. Jelas hukum tidak pernah salah saat kebenaran dan kejahatan adalah hitam dan putih, tidak pernah abu-abu. Tuhan adalah hukum itu sendiri, sebab Dia yang Maha Benar dan memberikan hukum sebagai wujud kebenaran- Nya. Manusia yang melanggar hukum adalah manusia berdosa dan penuh kutuk. Sampai kapan pun manusia tetap bersalah dan berdosa. Tuhan yang memiliki hukum ingin manusia yang berdosa tetap dihukum untuk selamanya. Inilah satu wajah Tuhan dalam pandangan manusia.

Bagi para penganut Tuhan yang berwajah hukum, hidupnya dipenuhi tuntutan untuk hidup saleh, hidup benar, tidak berdosa dan bersalah. Mereka sangat taat hukum Tuhan. Bahkan menilai orang lain dengan hukum Tuhan yang putih dan hitam; dosa dan tidak berdosa; benar dan salah. Karena itu mereka kadang merasa berhak untuk menghakimi dan menghukum sesama yang melenceng dari hukum Tuhan. Mereka menjadi wakil Tuhan demi tegaknya kebenaran yang putih dan hitam. Cara apapun menjadi halal asalkan mereka yakin
Tuhan yang memerintahkan, dan sesama yang terhukum memang pantas untuk dihukum karena perbuatannya yang melanggar hukum Tuhan. Sebelum sang terhukum habis lenyap, selama itu pula si penganut Tuhan berhak untuk mengejar, mengejar dan menangkapnya.
Atas nama Tuhan, sang penganut mendapat hak istimewa untuk membunuh si terhukum.

Sebagian penganut Tuhan memandang Tuhan dengan wajah yang berbeda. Tuhan, sang
Pengampun. Dia datang menawarkan cinta kasih yang mengubah hidup manusia. Cinta kasih yang tidak menghukum, bahkan memberi kesempatan untuk perubahan hidup yang lebih baik. Saat manusia melanggar hukum, Tuhan tetap percaya manusia berharga, sama berharganya saat manusia diciptakan-Nya. Bahkan saat orang lain menganggap si pelanggar hukum sebagai orang yang berbahaya dan tak berhak untuk hidup layak, di hadapan Tuhan, dia tetap berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua, ketiga, keempat dan kesekian.

Bagi para penganut Tuhan yang berwajah pengampun, cinta kasih lebih berharga daripada apapun. Kebencian, amarah, luka batin mampu diubah menjadi kebaikan, kejujuran dan kebenaran dalam hidup mereka. Hidup baru bukan lagi mimpi yang sulit terkabul karena upaya paksaan untuk berubah. Hidup baru terjadi alami karena batin, mental, jiwa,raga, pikiran telah pulih karena pengampunan dan kesempatan dari Sang Ilahi yang mencintainya. Para penganut Tuhan yang mengampuni akan melihat sesamanya sebagai makhluk Tuhan yang sama berharganya dengan diri mereka. Tidak ada batas, tidak ada sekat yang mampu menghalangi diri mereka untuk mencintai sesamanya habis-habisan. Diri mereka siap dikorbankan untuk orang lain seperti Tuhan berkorban bagi diri mereka. Tidak ada kata membalas dalam kamus diri mereka kecuali pengampunan dan memberi kesempatan untuk hidup  lebih baik saat melihat orang lain yang memusuhi mereka.

Dua wajah Tuhan yang paradoks ini adalah dalam novel “Les Misérables” karya sastrawan besar, Victor Hugo. Dua jenis penganut wajah Tuhan ini pun muncul dalam dua tokoh Jean Valjean dan Inspektur Javert. Hugo menulis novel ini pada tahun 1862 dengan setting revolusi rakyat terhadap pemerintah Perancis. Pertama kali saya menonton film “Les
Misérables” produksi tahun 1998, saya menduga novel ini ditulis Hugo untuk mengkritik situasi politik Perancis di mana kaum bangsawan tidak pernah berpihak pada rakyat yang papah dan miskin. Walaupun demikian cita rasa pengampunan dan hidup baru amat kuat dalam film tahun 1998 ini. Karena itu film ini berakhir dengan matinya Inspektur Javert yang menerjunkan dirinya ke sungai sebagai wujud ketakberdayaannya mengalahkan kasih yang dimiliki oleh Valjean.

Film “Les Misérables” dirilis ulang pada tahun 2012 dengan format drama musikal. Daya tarik dari film ini adalah para pemain Holywood yang terkenal sebagai aktor dan aktris kondang tetapi mereka melakonkan perannya dengan bernyanyi. Banyak pihak memuji
keberhasilan Tom Hooper, sang sutradara, yang membuat mereka mampu bernyanyi dan menghayati perannya dengan luar biasa.

Bagi saya, sentuhan Hooper pada novel karya Hugo ini menjadi begitu berbeda. Dua wajah Tuhan sengaja ditampilkan secara berbeda. Wajah Tuhan yang penuh hukum membawa kebencian bagi orang yang terkena hukuman, sementara si penganut merasa sangat perlu menjadi penegak hukum Tuhan. Sementara wajah Tuhan yang mengampuni, sengaja dimunculkan dengan kuat lewat wajah-wajah manusia yang terhempas oleh dosa, kemiskinan, kekerasan sistem, nilai dan moral. Dengan sengaja kedua wajah Tuhan yang diwakili oleh dua orang penganutnya dipertemukan, dibenturkan, dan dipertandingkan. Film karya Hooper ini membuat saya dengan gamblang menyaksikan bagaimana Hugo mengkritik agama, gereja yang kadang menjadi hakim bagi sesama. Tetapi di sisi lain Hugo terlihat menghadirkan tokoh agama, pengikut Tuhan, yang membawa pengampunan Tuhan bagi manusia. Entah ini merupakan mimpi Hugo atau kenyataan pada zaman di mana dia menulis novelnya.

Siapa yang menang? Tuhan yang berwajah hukum atau Tuhan yang penuh kasih? Menurut saya, salah satu keberhasilan Hooper mengolah novel legendaris ini adalah terletak pada ending film ini. Pada akhirnya, Tuhan sebenarnya tidak berwajah dua, tetapi para pengikut dan penganut- Nya yang berbeda dalam menafsirkan Tuhan dalam kehidupannya. Semuanya terletak pada bagaimana para pengikut-Nya berdamai dengan pengalaman masa lalunya. Saat Javert yang lahir di dalam penjara, hidup bersama dengan para penjahat, tak mampu menerima kenyataan masa lalunya, maka dia melihat wajah Tuhan yang penuh hukum dan kejam nyata di hadapannya. Sementara Valjean melihat penderitaannya sebagai orang yang terhukum sebagai cara Tuhan memulihkan dan mengampuninya. Karena itu akhirnya kasihlah yang menjadi pemenangnya. Sesungguhnya “Les Misérables” yang artinya si orang malang adalah dia yang tidak mampu menyelami keindahan kasih dalam peristiwa hidupnya. Dengan sangat indah Hooper mengangkat kemenangan kasih itu lewat kisah kematian Valjean. Ada kalimat-kalimat yang begitu menggugah yang dinyanyikan di akhir film: “Take my hand and lead me to salvation. Take my love for love is everlasting and remember the truth that once was spoken: To love another person is to see the face of God.”

Dalam dunia nyata, yaitu hidup kita sehari-hari, kedua “wajah Tuhan” hadir pula. Kelompok yang mengatasnamakan Tuhan, yang mengklaim membela Tuhan, menjalankan amanat Tuhan, menampilkan wajah garang pada sesamanya. Ungkapan kafir bertebaran dari mulut mereka yang diucapkan kepada orang-orang yang berseberangan dengan ideologi mereka. Penyerangan ke beberapa tempat yang melawan hukum Tuhan dilegalkan karena bertentangan dengan agama. Menindas bahkan membunuh sesama yang masuk kelompok “pendosa” menjadi halal darahnya karena kitab suci – yang dipercaya sebagai hukum Tuhan – menuliskannya. Ada banyak lagi contoh-contoh “wajah Tuhan” yang garang ini muncul dalam kehidupan kita.

“Wajah Tuhan” yang penuh kasih hadir pula dalam kehidupan kita. Dia hadir pada diri para sahabat, keluarga, teman biasa, bahkan orang asing sekalipun. Saat mereka menawarkan
kasih tanpa pamrih; atau saat mereka membuat kita berjuang untuk hidup yang lebih baik. Salah satu contoh nyata hadirnya wajah Tuhan yang kaya dengan kasih adalah ketika bencana alam datang. Saya ingat saat banjir di Jakarta terjadi pada tahun 2013. Waktu itu Jakarta berduka. Media massa memperlihatkan “tontonan” wajah kesedihan, kepedihan dan
penderitaan manusia karena banjir yang melanda Jakarta secara merata. Namun “tontonan” ini pula menjadi bernas ketika wajah kesedihan bertemu dengan wajah-wajah yang mengulurkan tangannya untuk membantu, memberikan waktu, tenaga, materi dari berbagai
lapisan masyarakat. Siapapun turun tangan, wajah kemanusiaan menjadi utama setelah wajah kekerasan dipertontonkan selama ini. Perbedaan kelas, sosial, ekonomi, suku, agama
yang selama ini meruncing menjadi hantaman yang mematikan persatuan bangsa ini; peristiwa banjir Jakarta menyatakan kasih itu melampaui batas-batas perbedaan.

Sekali lagi, lagu akhir film musikal “Les Misérables” begitu hidup dalam benak saya melihat dunia kita saat ini:

Do you hear the people sing?
Lost in the valley of the night
It is the music of a people who are climbing to the light
For the wretched of the earth
There is a flame that never dies
Even the darkest nights will end and the sun will rise

They will live again in freedom in the garden of the Lord
They will walk behind the ploughshare
They will put away the sword
The chain will be broken and all men will have their reward!
Will you join in our crusade?
Who will be strong and stand with me?
Somewhere beyond the barricade is there a world you long to see?
Do you hear the people sing?
Say, do you hear the distant drums?
It is the future that they bring when tomorrow comes!

Ya, harapan itu selalu ada bagi dunia.
Tomorrow will come! Tomorrow will be better!”

Pdt. Linna Gunawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here