SIMULASI

Binatang apakah yang paling saudara benci: nyamuk, lalat, laba-laba, tikus, ulat bulu, kecoa, cicak, ular, cacing, burung gagak, lintah, dst.nya ??? Mengapa saudara membencinya? Ada yang menjawab: ”Sebetulnya bukan benci, tapi jijik!” Ada juga yang menjawab: “Binatang itu menimbulkan rasa takut!” Ada lagi yang mengatakan: ”Tidak tahu mengapa, pokoknya aku tidak suka binatang itu penampilannya, caranya bergerak, baunya, dan lain-lain!”

Jika kita mencermati fenomena itu dengan saksama, ada satu kesamaan alasan mengapa orang membenci binatang tertentu. Mereka semua melihat binatang tertentu itu sebagai ancaman. Ancaman terhadap apa? Ancaman terhadap keselamatan, kesehatan, atau
kenyamanan mereka. Ancaman menimbulkan rasa takut. Ketakutan memicu bekerjanya mekanisme pertahanan diri, yang “build in” dalam diri setiap orang, bahkan dalam diri setiap mahluk hidup.

Ada dua cara menghadapi rasa takut, yaitu: lari atau melawan, bukan? Amarah adalah bagian dari mekanisme perlawanan. Amarah membangkitkan rasa tidak suka. Rasa tidak suka yang “kental” adalah kebencian. Kebencian menimbulkan permusuhan. Dan musuh harus ditaklukkan, dimusnahkan atau disingkirkan, bukan?

Berfirmanlah Allah:
”Baiklah kita menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang yang melata yang merayap di bumi. Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar-Nya diciptakannya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan- Nya mereka. (Kejadian 1:26-27

SAMA-SAMA MANUSIA

Kitab Kejadian dengan sangat jelas menegaskan bahwa Allah menciptakan manusia sama, yaitu segambar dan serupa dengan Dia. Allah menciptakan manusia itu laki-laki dan perempuan. Manusia adalah gambar dan rupa Alllah. Semua manusia memiliki kebutuhan
yang sama untuk dapat menopang hidup dan berkembang-biak. Rasul Paulus mengatakan: “Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala mahluk sama mengeluh dan sama-sama
merasa sakit bersalin.” (Roma 8:22) Semua orang mengalami kesusahan yang sama. Semua orang ingin terlepas dari kesusahan. Semua orang ingin hidup bahagia.

Jadi, tidak ada alasan yang masuk akal untuk membenci sesama? Semua orang harus saling menopang untuk mencapai cita-cita yang sama, yaitu kehidupan dalam damai dan sejahtera yang memberi rasa bahagia, bukan? Dengan kata lain, kita semua menghadapi “musuh” yang sama, yaitu segala hal yang menghalangi kita hidup bahagia. Ketidaktahuan (kebodohan), kemiskinan, sakit penyakit, dan bencana alam adalah persoalan bersama. Inilah alasan yang masuk akal untuk saling mengasihi. Stop melihat orang lain sebagai ancaman.

TAK KENAL MAKA TAK SAYANG

Ketika kita mengenal orang lain, kita disadarkan akan adanya kesamaan dan toleran terhadap perbedaan. Kita mampu menerima dengan tulus perbedaan penampilan, adat
istiadat, cara berkomunikasi, tata krama, makanan, dan kepercayaan. Perbedaan dilihat sebagai karunia Sang Pencipta yang indah dan kaya. Demikian banyak ragam binatang dan tumbuhan di bumi. Kita percaya bahwa keragaman itu memang kehendak Sang Pencipta.
Dan lihatlah, betapa indahnya keberagaman itu, bukan?

Kita tidak bisa menyangkal akan adanya kecenderungan manusia melihat perbedaan sebagai
ancaman yang menimbulkan ketakutan. Kecenderungan primitif ini seharusnya sudah tidak ada lagi. Sudah ribuan tahun manusia belajar dari kenyataan bahwa perbedaan adalah keniscayaan yang baik. Manusia sudah belajar berembuk untuk mendiskusikan perbedaan
agar tidak memicu perselisihan.

Jadi, tidak ada alasan yang masuk akal untuk membenci siapa pun yang berbeda dari kita. Stop melihat perbedaan sebagai ancaman!

KEBENCIAN MUTAKHIR

Kita berada dalam era kehidupan mutakhir. Era perburuan dan pengumpulan makanan (gathering), era pertanian dan peternakan, era industri dan perang dunia 1 & 2; era perang dingin, sudah berlalu. Saat ini kita berada di era globalisasi. Kita hidup dalam satu ruang yang sama. Semua batas yang selama ini memisahkan kita dari orang lain/ bangsa lain tidak ada lagi. Satu bumi untuk semua. Persoalan di mana pun dalam dunia menjadi persoalan kita. Kemajuan teknologi komputer dan komunikasi memampukan kita mengakses informasi dari telepon genggam kita. Penemuan-penemuan mutakhir dalam pelbagai bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi dalam hitungan menit sudah tersiar ke seluruh dunia. Kata kunci pada era ini adalah kompetisi bukan permusuhan.

Setiap orang/bangsa berlomba untuk menjadi yang terbaik agar dapat memperoleh kesempatan dan kualitas hidup yang terbaik, yang pada gilirannya dinikmati oleh semua
orang. Kreativitas yang dipacu oleh kegigihan menjadi kunci keberhasilan. Pasar bebas memberi peluang berkembangnya usaha siapa pun yang mampu berkompetisi secara
sehat. Kemajuan yang berhasil diraih oleh siapa pun akan berpengaruh pada setiap orang. Demikian halnya dengan kegagalan atau kemunduran. Jadi, berkompetisi secara sehat
adalah cara terbaik untuk meraih cita-cita, dengan selalu mengingat dampaknya bagi semua orang.

Kabar baik ini ternyata menjadi kabar buruk bagi orang-orang yang masih dikuasai oleh pementingan diri sendiri dan keserakahan. Bagi mereka kompetitor adalah musuh yang
harus diperangi untuk ditaklukkan atau dimusnahkan. Kompetitor mengancam kepentingan mereka. Mereka memiliki visi yang berbeda tentang dunia. Cara pandang era industri, perang dunia 1&2, serta perang dingin menjadi panji yang mereka kibarkan. Mereka memimpikan
sebuah dunia dimana mereka menjadi penguasa tunggal. Semua orang harus mau menyerahkan kebebasan dan kedaulatan: berpikir, bertindak, berpendapat, berusaha,
berkembang dan beribadah, kepada sang penguasa tunggal.

Inilah roh kebencian mutakhir yang mengambil rupa supermasi: ras, bangsa, suku, golongan, dan kepercayaan. Wajah ini pernah muncul di era Perang Dunia 2 dengan kekuatan merusak yang masif. Stop politik dan propaganda kebencian!

KUASA KASIH

Kebencian adalah daya perusak kehidupan. Kebencian berasal dari rasa takut. Rasa takut berasal dari dosa, karena upah dosa adalah maut (lihat: Roma 6:23).

Tetapi kasih adalah daya hidup. Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna
melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman. (IYohanes 4:18)

Dalam kasih kita melihat orang lain sebagai sesama bukan sebagai ancaman. Dalam kasih kita saling berbagi, saling menopang, saling membangun. Dalam kasih kita saling percaya. Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. Ketika kita masih kanak-kanak, kita berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang
sesudah kita menjadi dewasa, kita meninggalkan sifat kanak-kanak itu. Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya adalah kasih (lihat: 1 Korintus 13:11,13). Mari propagandakan kesamaan dan kebersamaan dalam kasih!

Beati esse Christum !! ( Pdt. Em. Jahja Sunarja )

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here