Hampir setiap orang pernah merasakan ketidakadilan di dalam kehidupannya, baik yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dalam keluarga, dalam kehidupan bermasyarakat,
di tempat kerja, terlebih lagi di dalam dunia politik. Ada orang merasa melakukan dengan sangat baik dan setia, tetapi mendapat balasan yang tidak setimpal, atau ada orang yang hidupnya tidak beraturan, tidak berjuang, namun mendapat penghormatan yang tidak selayaknya dia terima. Dalam menghadapi ketidakadilan seperti begitu, bagaimana kita harus bersikap?

Penulis di sini hanya mencoba memberikan beberapa usul yang mungkin bisa dilakukan dan berharap agar dengan melakukan demikian akan mendatangkan manfaat baik bagi diri sendiri maupun bagi orang yang tinggal bersama-sama dengan kita.

Pertama-tama: mencoba mengetahui cikal bakal masalah yang terjadi

Pada waktu kita merasa terjadinya ketidakadilan, dan dalam hati kita merasa tekanan karena perasaan yang demikian. Pertama-tama, kita datang kepada Tuhan yang mengasihi
kita, meminta ketenangan dan damai yang Tuhan Yesus janjikan: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu.Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”

Selanjutnya marilah kita belajar membuka diri dan hati kita, berinteraksi dengan orang yang ada di sekitar kita, khususnya orang-orang yang dapat kita percayai, itulah sebabnya gereja mencoba menggalakkan cell group, agar setiap kita mendapat dukungan dari sekelompok kecil orang yang mengerti kita. Dengan adanya interaksi dengan orang lain, kita dapat saling
menasihati dan saling membangun seorang akan yang lain (bandingkan I Tesalonika 5:11). Dan dengan demikian kita akan dapat melihat masalah dengan lebih objektif dan juga akan mendapat nasihat maupun petunjuk yang dapat dilakukan dalam mengatasi masalah yang
sedang dihadapi. Bahkan adakalanya Tuhan memakai saudara kita untuk menegur kita dalam kasih dan dengan segala kesabaran dan pengajaran (II Timotius 4:2). Sehingga kita juga dapat mengintrospeksi diri di hadapan Allah, melihat ke dalam diri sendiri, apakah kita juga mengambil andil dalam terbentuknya ketidakadilan yang sedang kita hadapi. Adakalanya dengan mengubah sikap dan cara hidup kita terhadap orang lain dapat
mengubah suasana dan kondisi pada tempat di mana kita berada, dan juga akan mengubah sikap dan pandangan, serta kelakuan orang lain terhadap kita.

Kedua, mencoba mengubah perspektif dan sikap hati kita

Menuntut keadilan dalam kehidupan adalah sesuatu yang wajar, dan menuntut diri sendiri berlaku adil adalah sesuatu yang terpuji. Namun dalam kenyataan hidup menunjukkan bahwa ketidakadilan terjadi di mana-mana, dan menimpa kepada siapa saja. Menghadapi kenyataan ini, kita tidak dapat berdaya mengubah situasi yang ada. Seperti seorang
pegawai melihat perlakuan dari rekan kerja yang tidak adil, dia berkata, saya bukan CEO, sehingga saya tidak dapat merubah atasan atau rekan kerja saya. Apa yang harus kita lakukan, jika kita tidak dapat merubah lingkungan dan keadaan yang ada di sekitar kita? Kita boleh mengubah perspektif dan sikap hati kita terhadap lingkungan di sekitar kita.

Marilah kita belajar dari Yusuf, dalam menghadapi perbuatan yang tidak adil dari saudara-saudaranya, Yusuf berkata kepada mereka: “Memang kamu telah mereka-rekakan yang
jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” (Kejadian 50:20). Yusuf mempunyai pilihan: Membiarkan perbuatan saudara-saudaranya menggerogoti ketenangan dan perspektif ke depan, atau tetap berfokus kepada Allah yang bertakhta di atas sejarah manusia.

Kalau Yusuf berfokus pada perbuatan saudara-saudaranya, maka dia akan hidup di dalam kemarahan, kebencian, dan tenggelam di dalam masa lalu yang suram dan penuh ketidakadilan. Namun dengan berfokus kepada Allah, dia dapat mengikuti pimpinan
Tuhan yang memakai masalah yang sedang dia hadapi untuk meloncat ke tempat yang lebih tinggi dan lebih baik serta sesuai dengan talenta yang Tuhan percayakan kepadanya. Dalam menghadapi perbuatan yang tidak adil, kita harus mengambil sikap, apakah kita bersikap reaktif atau proaktif. apakah kita membiarkan masalah yang mengontrol hati kita, atau menilai masalah dengan hati yang diserahkan dan dikontrol Roh Allah. Kalau kita membiarkan masalah yang mengontrol hati kita, maka kita akan berada di dalam masalah, dikuasai oleh masalah, serta terombang ambing oleh masalah tersebut, tetapi kalau kita
menyerahkan hati kita untuk dikontrol Roh Allah, maka kita akan berada di atas masalah dan menguasai masalah.

Selanjutnya, kalau kita bersikap proaktif, kita akan dapat berdiri teguh, tidak goyah, dan pantang menyerah, kita dapat tetap berfokus pada pekerjaan yang telah Tuhan percayakan kepada kita. (bdg. I Korintus 15:58). Kita akan melakukannya dengan penuh tanggung jawab dan dengan semangat yang kuat kita melakukan apa benar di mata Tuhan, sesuai dengan prinsip dan kehendak Tuhan. Bila kita bersikap reaktif, kita sangat mudah tergoda
untuk menyalahkan orang lain, dan bahkan tenggelam dalam emosi dan kemarahan. Tetapi bila kita bersikap proaktif, kita akan bersikap lebih positif, bahkan kita akan memakai sikap ketidakadilan orang lain sebagai pemacu bagi kita untuk lebih berhati-hati dan teliti dalam menunaikan tugas dan tanggung jawab kita. Sama seperti seorang peselancar yang bermanuver di atas ombak dan bergerak dengan menggunakan tenaga arus ombak di
bawanya. Demikian juga kita dapat bergerak di atas ketidakadilan dan menggunakan arus tenaganya untuk mendorong kita maju dengan lebih cepat, sama seperti Yusuf yang
bergerak di atas arus ketidakadilan/ fitnahan istri potifar, sehingga melalui penjara dia meloncat dari rumah Potifar ke Istana Firaun.

Terakhir, percaya bahwa Tuhan itu adil.

Kita yakin dan percaya bahwa keadilan Allah bereksis di tengah-tengah lingkungan dan masyarakat yang cenderung berlaku tidak adil. Walaupun keadilan Tuhan adakalanya tidak
kelihatan dan tidak terlalu dirasakan, namun setiap orang akan mengakui keadilan itu bereksis. Ada pepatah berbunyi: “Ada ubi ada talas, ada budi ada balas, belum dibalas karena waktunya belum tiba, bila waktunya tiba semua akan dibalas”. Bagaimana balas, siapa yang akan balas? Alkitab menasihati kita: “… janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu
adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.” Roma 12:19

Lalu apakah pembalasan yang adil dari Tuhan hanya merupakan suatu teori saja? Tidak saudara sekalian, Tuhan selalu bertindak dalam keadilan-Nya. Contoh yang paling konkret terjadi dalam pengalaman orang Israel pada waktu mereka keluar dari tanah Mesir, Firaun berlaku sangat tidak adil terhadap mereka, mereka ditindas dengan kerja paksa, bahkan setelah Tuhan mengutus Musa menghadap Firaun, Firaun memerintahkan pengerah-pengerah bangsa Israel dan mandur-mandur orang Mesir supaya tidak memberikan jerami kepada bangsa Israel, tetapi bangsa Israel harus membuat bata yang sama banyaknya.

Tuhan mencatat semua ketidakadilan yang diperbuat oleh Firaun dan bangsanya, dan dalam Keluaran 3:21-22 Tuhan berjanji: “Dan Aku akan membuat orang Mesir bermurah hati terhadap bangsa ini, sehingga, apabila kamu pergi, kamu tidak pergi dengan tangan hampa, tetapi tiap-tiap perempuan harus meminta dari tetangganya dan dari perempuan yang tinggal di rumahnya, barang-barang perak dan emas dan kain-kain, yang akan kamu kenakan kepada anak-anakmu lelaki dan perempuan; demikianlah kamu akan merampasi orang Mesir itu.”

Janji ini digenapi Tuhan pada waktu Umat Israel keluar dari tanah Mesir, dalam Keluaran 12:35-36 berbunyi: “Orang Israel melakukan juga seperti kata Musa; mereka meminta dari
orang Mesir barang-barang emas dan perak serta kain-kain. Dan TUHAN membuat orang Mesir bermurah hati terhadap bangsa itu, sehingga memenuhi permintaan mereka. Demikianlah mereka merampasi orang Mesir itu.”

Di sini memakai istilah “merampasi” orang Mesir, sebenarnya Tuhan mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik orang Israel kepada mereka. Karena selama ini mereka
ditindas dengan kerja paksa, tidak dibayar dengan sewajarnya, dan Tuhan ikut campur tangan, supaya orang Israel mendapat kembali upah yang seharusnya mereka dapat dari kerja paksa mereka.

Saudaraku, percayalah, Tuhan itu adil. Tuhan yang adil akan mengembalikan apa yang menjadi milikmu kepadamu. Jika hari ini engkau diperlakukan dengan tidak adil, engkau jangan kecewa dan putus asa, tetapi engkau harus percaya, bahwa satu hari nanti Tuhanlah yang akan menuntut keadilan bagi Anda. Orang yang berlaku tidak adil terhadap engkau hari
ini, akan menghadapi penghakiman Tuhan yang adil di kemudian hari.

KESIMPULAN:

Apabila kita diperlakukan dengan tidak adil, janganlah marah, jangan pula mencari kesempatan untuk membalas, di lain sisi, jangan pula kita merasa kasihan terhadap diri
sendiri, atau berusaha menyenangkan orang lain, tetapi hendaklah kita menguasai diri sedemikian rupa, supaya kita tetap tenang dan tabah menghadapinya. Izinkanlah Tuhan
bekerja dan menunjukkan keadilan-Nya sesuai dengan waktu dan kehendak-Nya. Tugas kita adalah mengasihi mereka seperti yang dikehendaki dan diajarkan Tuhan kita: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya
kamu.” (Matius 5:44). Ya, kasihilah mereka, dan berdoalah bagi mereka, selebihnya, serahkan kepada Tuhan. *

Pdt. Antonius Setiawan

SHARE
Previous articleAHOK DAN PETRUS
Next articleFLORENCE NIGHTINGALE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here