Setelah Tuhan Yesus memberi makan lima ribu orang lebih hanya dengan “lima roti dan dua ikan”, Ia menyuruh murid-murid-Nya naik perahu menyeberang lebih dahulu. Lalu, Ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah orang banyak pulang, Tuhan Yesus naik ke bukit untuk berdoa.

Perahu murid-murid-Nya sudah berada beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang karena angin sakal.

Kira-kira jam tiga malam, datanglah Tuhan Yesus kepada mereka berjalan di atas air.
Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: “Itu hantu!”, lalu berteriak-teriak karena takut.

Tetapi segera Tuhan Yesus berkata kepada mereka:”Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”
Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia:”Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada- Mu berjalan di atas air.”

Kata Tuhan Yesus kepadanya:”Datanglah!”

Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Tuhan Yesus. Tetapi ketika dirasakannya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak:”Tuhan tolonglah aku!”

Segera Tuhan Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: ”Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”

Lalu Tuhan Yesus dan Petrus naik ke perahu dan angin pun reda. Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Tuhan Yesus katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”
(Matius 14:22-33)

PERCAYA HARUS PENUH!

Petrus tenggelam karena ia kurang percaya. Tiupan angin dan keadaan tidak masuk akal (ia bisa berjalan di atas air) menyebabkan ia takut. Tuhan Yesus mengatakan bahwa Petrus bimbang/ragu-ragu. Tuhan Yesus menegaskan bahwa percaya itu harus penuh.

Ciri-ciri seorang yang percaya penuh adalah tidak adanya rasa takut. Sebab rasa takut adalah perasaan yang berada dalam hati manusia ketika manusia jatuh dalam dosa.

Hawa tidak percaya kepada Tuhan bahwa jika ia makan buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, dia akan mati. Ia percaya kepada iblis yang mengatakan bahwa dengan
makan buah itu, ia akan menjadi seperti Tuhan tahu yang baik dan yang jahat. (lihat Kejadian 3:1-6)

Percaya penuh menyebabkan orang percaya memiliki damai sejahtera dalam hatinya, ketenangan, dan penyerahan diri yang total kepada Tuhan Yesus Juru selamatnya. Seperti
Daud yang melukiskan percayanya dengan sangat baik dalam Mazmur 23, demikianlah suasana hati setiap orang yang percaya penuh kepada Tuhan.

LALU TAKUTLAH AHOK

Waah itu tidak benar! Ahok tidak pernah takut! Imannya sangat teguh. Lihatlah bagaimana ia melaksanakan tugasnya selaku gubernur, berdasarkan imannya! Ia menyaksikan imannya
dalam setiap kesempatan. Bahkan baginya mati karena melaksanakan kebenaran dan menegakkan keadilan, adalah keuntungan. Ia banyak kali mengutip ayat-ayat Alkitab untuk
menopang pernyataannya.

AHOK PERNAH TAKUT.

Ia ingat bahwa strategi yang pernah mengalahkannya dalam pemilihan …. di Belitung, akan dipakai lagi untuk mengalahkannya dalam Pilkada untuk Gubernur DKI. Lalu ia berupaya
mencegah agar cara yang sama tidak lagi memiliki pengaruh yang sama, dalam Pilkada Gubernur DKI. Ia lupa bahwa cara ia memperoleh jabatan Gubernur DKI adalah cara
yang tidak masuk akal, bukan? Lalu Ahok mulai “tenggelam”.

Seperti kepada Petrus, yang juga baru saja menyaksikan bagaimana Tuhan Yesus memberi makan lima ribu orang lebih hanya dengan lima roti dan dua ikan; sambil memegang tangan
Ahok, Tuhan Yesus berkata:”Ahok mengapa kamu kurang percaya?”

PETRUS RASUL YANG SANGAT BERANI

Kita membaca dalam Alkitab, berulang-kali Petrus mengalami ujian atas imannya. Dan Alkitab menyaksikan bahwa setelah Tuhan Yesus naik ke surga Petrus menjadi rasul yang sangat berani. Ia bersaksi tentang Tuhan Yesus Kristus di hadapan siapa saja, termasuk orang-orang yang membenci Tuhan Yesus dan semua orang yang percaya kepada-Nya. Ia percaya penuh pada penyertaan Tuhan. Ia tidak gentar.

Kita sungguh bersyukur dan bangga, bukan?
Bagaimana dengan Ahok?

AHOK LULUS UJIAN

Banyak orang kecewa ketika Ahok tidak “naik banding”. Banyak sahabat dan orang-orang yang mengasihinya menjadi bingung, lalu membuat pertimbangan-pertimbangan yang
bersifat politis terhadap keputusan itu.

Bagi saya, keputusan yang diambil Ahok adalah keputusan iman, bukan keputusan politis. Ia, seperti Petrus, sadar bahwa walaupun hanya seketika saja, ia telah meragukan Tuhan-nya.

Jadi, sepatutnya kita bersyukur, bukan? Kita percaya Ahok memperoleh pelajaran yang
sangat baik dari peristiwa Pilkada itu. Ia belajar untuk percaya penuh kepada Tuhan Yesus yang sangat mengasihinya. Kita percaya bahwa seperti Tuhan menyertainya selama
ini, Tuhan juga akan menyertainya saat ini dan selamanya.

Seperti Petrus yang menjadi rasul yang sangat berani, saya percaya Tuhan akan terus memakai Ahok untuk rencana-Nya bagi Indonesia.

Soli Deo Gloria

Pdt. Em. Jahja Sunarja

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here