Sepanjang saya menjadi pendeta, beberapa kali saya mewakili gereja, tempat saya melayani, memberikan kata sambutan. Biasanya, saya selalu menyelipkan kalimat akhir dengan kata-kata, “Atas nama Majelis Jemaat dan seluruh jemaat….” Kalimat itu saya ucapkan dengan rasa percaya diri bahwa gereja saya memberi kepercayaan kepada saya; memang inilah tugas yang mereka titipkan kepada saya. Karena itu, saya menggunakan kata: Atas Nama, atau dalam bahasa Inggris: On Behalf of.

Saya yakin ‘atas nama’ juga bukan hal yang asing bagi Anda. Jikalau Anda harus mengurus surat-surat penting, lalu Anda tidak bisa mengurusnya sendiri, Anda memberikan surat
kuasa yang di dalamnya Anda membubuhkan kata-kata: ‘atas nama’ sebagai tanda bahwa Anda memercayakan pengurusan surat-surat tersebut kepada orang yang Anda percaya. Intinya, ‘atas nama’ selalu berkaitan dengan rasa percaya dan memercayai.

Entah mengapa, akhir-akhir ini, kata-kata: ‘atas nama’ terdengar begitu menyakitkan di telinga dan hati saya. Gara-gara orang-orang beragama, yang mengaku percaya Tuhan, mudah sekali mengklaim perbuatannya, atas nama Tuhan. Ungkapan-ungkapan ‘atas nama Tuhan’ menjadi begitu murahan. Apalagi ketika ‘atas nama Tuhan’ ini digunakan sebagai kendaraan politik para kandidat pemimpin negara atau daerah untuk memenangkan dirinya. Apa yang membuat saya ‘muak’ dengan istilah ‘atas nama Tuhan’ pada saat ini?

Pertama, orang yang menggunakan ‘atas nama Tuhan’ menjadi orang yang merasa paling mengenal Tuhan. Contohnya, saya sering mendapat pesan berantai dari media sosial atau
seseorang menghibur kawannya yang sedang berduka dengan kata-kata, “Tuhan punya rencana yang lebih indah di balik kemalangan yang kamu hadapi.” Tidak hanya berhenti di sini kata-kata yang meng-atas nama-kan Tuhan. “Tuhan sedang merancangkan kondisi yang lebih baik bagimu. Pasti kamu akan menjadi orang yang lebih sukses, lebih berhasil, dan sebagainya.” Lalu, biasanya bertebaranlah ayat-ayat dari Alkitab di bawah kata-kata ‘atas
nama Tuhan’ itu untuk mendukung pendapatnya tersebut. Kedengarannya kata-kata ini tidak ada masalah sebab kita ucapkan untuk menghibur mereka yang sedang berduka. Persoalan
sebenarnya adalah apakah kita percaya bahwa Tuhan sedang melakukan seperti yang kita pikirkan dan katakan?

Di dalam Alkitab, salah satunya adalah ucapan bahagia yang diucapkan Tuhan Yesus dalam edisi khotbah di bukit adalah “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan
dihibur.” Memang benar bahwa Tuhan akan menghibur kita yang sedang berdukacita. Tetapi kadang kita lupa Tuhan menggunakan berbagai cara untuk menghibur, yang pasti tidak hanya sekadar dengan kata-kata, tetapi tindakan nyata. Saat Tuhan Yesus berjumpa dengan seorang ayah yang anaknya yang sakit keras dan telah mati, Dia mendatanginya dan membangkitkan sang anak. Saat Dia melihat Zakheus yang menderita pengucilan karena dianggap berdosa, Tuhan Yesus mendatanginya dan menumpang dirumahnya. Saat
Maria mendatangi-Nya, memohon Tuhan Yesus datang membangkitkan kakaknya, Lazarus, dari kematian; Dia mengawalinya dengan tangisan.

Sekalipun kita meng-atasnama-kan Tuhan untuk tujuan baik, sesungguhnya kadang hal itu tidak menolong banyak bagi mereka yang berduka. Saya memilih menyetujui cara Tuhan Yesus yang turut bersedih dan berduka, tanpa harus mengucapkan kata-kata penghiburan. Kadang mereka yang berduka perlu ruang untuk menangisi duka mereka. Mereka kadangkala perlu proses menerima keadaan yang menyakitkan, membiarkan mereka marah sesaat sebagai cara menyembuhkan rasa sakit. Saat tangisan, marah, dan diam menjadi
proses pemulihan, saya percaya Tuhan ada bersama dengan mereka. Tuhan sedang menangis bersama mereka. Seperti kata teolog Asia, Choan Seng Song, yang percaya bahwa Allah yang diam adalah Allah yang sedang menangis bersama para korban.

Kedua, ‘atas nama Tuhan’ seringkali menunjukkan arogansinya sebagai orang yang paling tahu tentang Tuhan. Dia merasa paling benar, paling suci, paling dekat dengan Tuhan.
Akibatnya, dia mudah merendahkan orang lain; menuduh mereka yang tak sepaham dengannya dengan sebutan ‘kafir’ atau ‘orang berdosa.’ Yang parah adalah orang yang mengatasnama- kan Tuhan ‘mendoakan’ sesamanya yang berseberangan dengannya masuk ke dalam neraka sebab menurutnya, Tuhan tidak berkenan atas perbuatannya. Akhirnya, yang paling parah adalah ketika mereka yang merasa ‘dekat dengan Tuhan’ mulai membunuh sesamanya atas nama Tuhan.

Ngeri sekali kedengarannya kalau ada orang yang memakai nama Tuhan untuk membenarkan dirinya dan menyalahkan orang lain. Namun, dalam sejarah dunia, beberapa orang menjadi korban dari ganasnya pihak-pihak yang memakai nama Tuhan. Sebut saja nama Nicolaus Copernicus dan Galileo Galilei yang dihukum mati oleh gereja karena teorinya dianggap bertentangan dengan ajaran Gereja. Kemudian hari terbukti bahwa teori mereka tentang bumi, matahari, dan dunia ternyata benar. Selain itu, ada pula perang dunia disebabkan oleh negara-negara yang menganggap agamanya paling benar, sehingga
negara yang tidak sepaham diserang habis-habisan. Perang salib, misalnya, dapat disebut sebagai perang antar agama, walaupun sebenarnya tetap ada kepentingan politik dari
kedua pihak yang berperang.

Ternyata, pada masa kini, masih saja ada orang yang memakai nama Tuhan lalu merendahkan sesamanya. Sebutan kafir, orang berdoa dan masuk neraka memenuhi media sosial dan media massa. Dengan arogannya, kelompok yang memakai nama Tuhan melakukan tindakan-tindakan anarkis yang merusak cinta kasih antar sesama manusia. Padahal orang-orang seperti ini seringkali lupa bahwa ketika mereka memakai telunjuk mereka untuk menghakimi orang lain, minimal ada tiga jari yang tertuju padanya. Dengan
kali lain, Tuhan Yesus dalam catatan Injil Matius memberi ‘warning’ kepada para pengikut-Nya agar hati-hati menghakimi orang lain, sebab ukuran yang kita pakai untuk menghakimi
orang lain akan dikenakan juga kepada kita (Mat. 7: 2). Atau, mereka yang memakai nama Tuhan kadangkala lupa bahwa hikmat yang mereka dari Tuhan akan membuat mereka
menjadi orang yang rendah hati, bukan sebaliknya meninggikan diri.

Ketiga, kunci dari ‘atas nama’ yang di dalamnya mengandung rasa percaya dan memercayai lahir dari relasi yang indah antara Tuhan dan manusia. Para nabi berani meng-atasnamakan
Tuhan dalam memberitakan kabar baik maupun kabar buruk pada bangsa Israel, misalnya, didasari oleh relasi sang nabi dengan Tuhan. Relasi ini, bukan sekadar relasi basa-basi. Tetapi relasi yang terlihat melalui kata dan perbuatan sang nabi. Dia menunjukkan integritasnya sebagai seorang utusan Allah.

Mereka yang memakai atas nama Tuhan seharusnya menyadari bahwa apa yang mereka sampaikan memperlihatkan kedekatannya dengan Tuhan. Dia akan menampilkan nilai dan ajaran Tuhan dalam hidupnya. Dirinya adalah ‘kitab yang terbuka bagi Kristus,’ kata Rasul Paulus. Karena itu, betapa memalukannya perbuatan orang-orang yang sebelumnya memakai nama Tuhan, lalu ketahuan bertindak asusila atau melakukan korupsi. Hidupnya tidak sejalan dengan Tuhan yang nama-Nya dipakai untuk kepentingannya sendiri.

Sebaiknya, mari kita mulai menjadi bijak untuk menggunakan nama Tuhan dalam segala hal. Janganlah kita membuat nama Tuhan menjadi begitu murahan. Sebaiknya, pakailah
atas nama Tuhan untuk segala hal baik yang kita lakukan dan kerjakan untuk diri sendiri, sesama bahkan mengubah dunia menjadi lebih baik.*

Pdt. Linna Gunawan
Pendeta Gereja Kristen Indonesia Kayu Putih, Jakarta, Indonesia.
Saat ini beliau sedang menempuh studi doktoral di Graduate Theological Union, Berkeley.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here